Menurut Ketua Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), Pudjianto, masyarakat sekarang ini menginginkan hal yang semakin praktis, termasuk dalam berbelanja. Munculnya berbagai perangkat elektronik seperti smartphone, dan jaringan internet yang semakin membaik mendorong masyarakat mencari produk yang mereka butuhkan melalui jaringan internet. “Masyarakat yang ingin berbelanja, nantinya tinggal klik situsnya, barang sudah sampai di rumah. Masyarakat juga bisa mencari toko mana yang menjual barang paling murah,” ungkap Pudjianto di Jakarta. Era 60-an, tutur Pudjianto, adalah masa keemasan pasar tradisional, era 70-an adalah era supermarket, saat itu mulai dikenal brand seperti Hero dan Gelael.
Tahun 90-an, giliran Wall Mart dan Carrefour memimpin pasar hypermarket. Adapun tahun 2000-an dikuasai oleh minimarket yang menyediakan berbagai produk kebutuhan sehari-hari di satu toko yang dekat dengan tempat tinggalnya. Lalu, perubahan kembali terjadi pada era 2010, di mana retail online mulai berkembang. Melihat perkembangkan yang ada, ia menyarankan agar para pengusaha retail membuka diri terhadap konsep retail online. Menurutnya, bisnis retail yang maju tidak hanya disebabkan oleh merek terkenal yang mereka usung, tapi juga kemampuan membaca keinginan pasar domestic.
Ryota Inaba, Presiden Direktur dan CEO PT Rakuten-MNC juga memiliki pandangan serupa. Malah dalam acara Ramalan Tren E-commerce 2013 beberapa waktu lalu ia mengatakan, saat ini telah terjadi pergeseran transaksi dalam belanja online. Kalau biasanya orang membuka situs belanja online dengan menggunakan laptop dan PC, maka kini sudah banyak yang menggunakan perangkat mobile. Tahun 2013 ini, ia menyaarankan agar para pebisnis ritel membuat peningkatan integrasi mobile. Toko-toko harus membuat website-nya dalam versi mobile karena penetrasi perangkat mobile terus meningkat.--Diana Runtu/Ngurah Budi
Sumber : tokoh.co.id