Pertumbuhan properti yang kian meroket, memicu bermunculannya gedung-gedung pencakar langit. Keberadaannya pun seolah mengepung jakarta. Tak hanya pusat perkantoran, tapi juga kawasan permukiman di tengah kota yang menyatu dengan area terpadu (superblok).
Untuk memenuhi kebutuhan itu, beberapa developer besar mengembangkan kawasan permukiman dan melengkapi pusat belanja didalamnya. Melihat potensi berkembangkan sebuah pusat belanja. Lewat researchnya selama ini, Martin Hutapea, Consulting and Research DTZ menjelaskan, cumulative stock major shopping mall di Jakarta pada kuartal tiga tahun 2011 mencapai angka hingga 1.87 juta meter persegi, termasuk kontribusi dari Kalibata City dan Paragon Hayam Wuruk pada tahun ini.
Seiring dengan kenaikan permintaan dan masuknya dua mall di atas, maka adapun dampaknya terhadap tingkat hunian. Occupancy rate mengalami kenaikan hingga 87% di kuartal ketiga tahun ini.
“Berdasarkan jenis retailnya, permintaan terkuat datang dari pangsa pasar bisnis fashion. Sejak awal kuartal tahun ini, permintaan dari bisnis fashion sebesar 36% dan diikuti oleh food & beverage sebesar 35%. Sisanya sebesar 29% berasal dari beberapa kategori bisnis seperti watches, shoes, bags, jewelry, supermarket, gadgets dan sebagainya,” jelas Martin Hutapea.
“Banyaknya permintaan untuk ruang retail justru datang dari pemilik merek ternama baik internasional maupun lokal yang sudah mapan di pasaran,” terangkan Martin. “Space areanya, mereka membutuhkan luasan tokonya mulai dari 100 sampai 300 meter persegi. Sedangkan untuk kebutuhan supermarket, bisa mencapai kisaran 2.000 meter persegi,” tegasnya melengkapi.Lebih lanjut Martin menerangkan, kisaran rata-rata untuk harga sewanya sendiri untuk typical floor berkisar sekitar Rp 340 ribu permeter persegi perbulannya. Angka ini relatif stabil jika dilihat dari pergerakan secara kuartal.
Umumnya dari beberapa pengembang yang terkonsentrasi mengembangkan pusat perbelanjaan di level atas. Mereka yang giat membangun pusat perbelanjaan beberapa diantaranya adalah Ciputra, Agung Podomoro dan Lippo Group. Contoh beberapa proyek mereka yaitu Ciputra World, Kuningan City, Kemang Village dan Puri Village.
Pemain bisnis retail yang terus agresif berekspansi di tiap mega proyek untuk mengendalikan pasar terbesar di Jakarta, dua diantaranya dengan hadirnya Lotte Mart dan Debenham yang telah melakukan pre-commitment di beberapa mega proyek.
Besar pasokan kebutuhan akan ruang perbelanjaan secara menyeluruh diharapkan mengalami kenaikan pertumbuhannya. “Lewat analisa ini, kami berharap hingga tahun 2012 pasokan itu akan tumbuh sekitar 630.000 meter persegi,” paparkannya.
Pengereman sementara pembangunan mall yang diusulkan gubernur DKI Jakarta melalui moratorium, semoga saja tidak akan mengganggu bisnis retail, karena ini bisa saja berdampak pada semakin terbatasnya ruang ekspansi bisnis retail di masa yang akan datang. Pada gilirannya nanti, kenaikan tingkat hunian untuk retail, kemungkinan akan mengalami peningkatan.
Beberapa perusahaan dari luar negeri yang bergerak di bidang retail melihat Indonesia sebagai negara besar yang memiliki kekuatan pertumbuhan ekonominya terus berkembang. Potensi bisnis di sektor ini akan terus maju seiring pertumbuhan properti di Indonesia,” tegaskannya kembali. Momentum inilah yang saat ini dimanfaatkan oleh beberapa retail asing seperti Uniqlo (Japan) dan Metro Group (German) akan masuk ke pasar Indonesia.