Temasek holding mengakusisi peritel indonesia

Diposting oleh Maz Duikin on Senin, 14 Juli 2014

TRIBUNNEWS,COM, JAKARTA -- Tahun ini dua berita peralihan kepemilikan dari bisnis ritel milik Grup Lippo menghiasi media massa. Hasrat Temasek Holdings dari Singapura berbiak duit di bisnis ritel Indonesia mendapat titik terang. Akhir Januari 2013, melalui anak-anak usahanya, pertalian bisnis antara Lippo dan Temasek ditandatangani.

Mereka meneken exchangeable rights subscription agreement (ERSA) senilai US$ 300 juta, atau sekitar Rp 2,88 triliun. Kelak, Temasek bisa mengonversi exchangeable rights ini menjadi kepemilikan 26,1 persen saham PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), pemilik gerai Hypermart.

Pada 18 Februari lalu, pemilik MPPA, PT Multipolar Tbk, menyatakan telah menyelesaikan dan mengeksekusi transaksi ERSA ini. Apakah artinya Temasek sudah sah menjadi pemilik MPPA? Sekretaris Perusahaan Multipolar Chrysologus R.N. Sinulingga mengatakan, berlangsungnya transaksi pembelian saham MPPA ini masih dalam jangka waktu yang ditentukan seperti dalam ERSA. “Kami percaya investasi ini akan mendukung pertumbuhan bisnis dan ekspansi berkelanjutan MPPA,” kata Chrysologus.

Satu transaksi lagi terkait kewajiban melepas dan mempertahankan kepemilikan publik (refloat) CVC Capital Partners Ltd atas kepemilikannya di PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Kabarnya, CVC menawarkan  40 persen saham LPPF senilai 1,5 miliar dolar AS. Dengan kata lain, mereka menilai LPPF sebesar 3,5 miliar dolar AS.

Adalah jaringan ritel dari Jepang Aeon Co Ltd yang sempat mengajukan tawaran senilai 2,6 miliar dolar AS. Namun, awal Februari lalu, Eksekutif Bidang Business Development Aeon, Masaaki Toyoshima, melalui surat elektronik kepada Bloomberg, mengatakan bahwa dalam pertemuan 4 Februari 2013, Aeon mengindikasikan tidak bisa memenuhi harga jual yang diajukan CVC. “Harga CVC itu setara 15 kali perkiraan laba usaha sebelum bunga, depresiasi, dan penyusutan LPPF tahun 2013,” kata Masaaki.

Walau Aeon batal, CVC masih punya calon investor strategis lain yang memburu saham LPPF. Mereka adalah Temasek Holdings dan American International Group Inc (AIG). Yang jelas, bila valuasi CVC atas LPPF diamini investor, CVC bakal untung besar. Saat masuk ke LPPF tahun 2010, mereka cuma mengeluarkan duit 790 juta dolar AS saja.

Bayangan keuntungan investasi yang luar biasa besar dengan masuk ke bisnis ritel Indonesia sungguh menyilaukan investor dan pelaku ritel dari luar negeri. Selain jalur akuisisi, tak sedikit peritel asing yang mengadu peruntungan terjun langsung ke Indonesia.

Bersaing ketat

Jejak investor asing ke bisnis ritel dalam negeri sudah terlihat sejak 10 tahun lalu. Saat itu, Dairy Farm International Giant Retail Sdn Bhd dari Malaysia menggandeng PT Hero Supermarket Tbk mendirikan hipermarket Giant. Pasca akuisisi tersebut, minat investor asing terhadap pasar ritel lokal pun seperti tak terbendung.

Tengok saja deretan peritel asing yang sudah beroperasi di Indonesia. Daftar nama ini akan bertambah dengan kehadiran peritel-peritel asing baru pada tahun ini dan tahun depan. Salah satu yang menarik adalah kehadiran Aeon. Sebelum menarik diri dari LPPF, mereka memastikan diri hadir mengembangkan jaringan ritelnya di Indonesia.

Melalui PT Aeon Mall Indonesia dan PT Aeon Indonesia, mereka meramaikan pasar department store, supermarket dan minimarket. Wakil Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Pudjianto, menyebut tiga alasan investor asing kepincut pasar ritel dalam negeri. Pertama, kondisi ekonomi Indonesia yang mantap. Perekonomian Indonesia tetap tumbuh di tengah perlambatan ekonomi secara global. Belum lagi, pendapatan per kapita yang kian besar, di kisaran 3.500 dolar AS.

Kedua, jumlah penduduk yang besar, lebih dari 240 juta jiwa, juga menjadi katalis positif. Artinya, ada potensi daya konsumsi yang besar pula. Ketiga, pertumbuhan kelas menengah yang didukung perkembangan karakter masyarakat dalam berbelanja. “Sedang investor asing sudah kehabisan lahan ekspansi di negaranya dan memilih ke sini,” ujar dia.

Pudjianto mengaku, banyak investor asing melirik Alfamart. Namun, jaringan minimarket yang mengoleksi 7.200 gerai ini belum berminat untuk menyambut gayung yang disodorkan. Senada dengan Pudjianto, Direktur Ritel SBMart Gustaf Ismail mengatakan, jumlah penduduk Indonesia yang besar menjadi pemicu investor lokal meminati pasar ritel dalam negeri.

Bisnis ritel tetap hidup dalam kondisi ekonomi krisis sekalipun, karena orang tetap butuh konsumsi. SB Mart tak gentar bersaing dengan peritel asing. “Kami mengusung sistem dan nilai lokal yang lebih Islami,” kata Gustaf.

Direktur PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk Setyadi Surya juga tak takut bersaing dengan peritel asing. Sebagai peritel yang menyasar pasar menengah bawah, mereka sudah mengenal konsumen dengan sangat baik.

Tak cuma itu, Ramayana juga telah menjalin hubungan baik dengan pemasok yang telah bekerjasa sama selama 30 tahun. “Kami membina mereka sejak masih UKM,” kata Setyadi. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Tutum Rahanta menilai persaingan bisnis ritel kian ketat, namun peritel asing tetap bisa meraup cuan di Indonesia. “Masyarakat cenderung mudah menerima merek asing,” kata Tutum.

 (Kontan/Arief Ardiansyah, Anastasia Lilin Y, Sofyan Nur Hidayat, Adisti Dini Indreswari)
More aboutTemasek holding mengakusisi peritel indonesia

Bisnis retail Online Makin Pesat

Diposting oleh Maz Duikin

Bisnis online di Indonesia diramalkan berkembang pesat, seiring dengan perubahan pola konsumsi masyarakat. Data  Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), volume bisnis online di Indonesia mencapai Rp 126  triliun tahun 2012, dan diperkirakan meningkat sepuluh kali lipat pada tahun 2013. Melihat perkembangan yang ada,  para pengusaha retail Indonesia hendaknya mulai memikirkan perubahan yang terjadi dan mengantisipasi dampak  dari era komunikasi tanpa batas ini. Pengusaha harus membuka diri terhadap konsep retail online. Hal ini penting  agar bisa memenangkan persaingan bisnis retail di Indonesia.

Menurut Ketua Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), Pudjianto, masyarakat sekarang ini menginginkan  hal yang semakin praktis, termasuk dalam berbelanja. Munculnya berbagai perangkat elektronik seperti smartphone,  dan jaringan internet yang semakin membaik mendorong masyarakat mencari produk yang mereka butuhkan melalui  jaringan internet. “Masyarakat yang ingin berbelanja, nantinya tinggal klik situsnya, barang sudah sampai di rumah.  Masyarakat juga bisa mencari toko mana yang menjual barang paling murah,” ungkap Pudjianto di Jakarta.  Era 60-an, tutur Pudjianto, adalah masa keemasan pasar tradisional, era 70-an adalah era supermarket, saat itu  mulai dikenal brand seperti Hero dan Gelael.

Tahun 90-an, giliran Wall Mart dan Carrefour memimpin pasar  hypermarket. Adapun tahun 2000-an dikuasai oleh minimarket yang menyediakan berbagai produk kebutuhan  sehari-hari di satu toko yang dekat dengan tempat tinggalnya. Lalu, perubahan kembali terjadi pada era 2010, di  mana retail online mulai berkembang.  Melihat perkembangkan yang ada, ia menyarankan agar para pengusaha retail membuka diri terhadap konsep retail  online. Menurutnya, bisnis retail yang maju tidak hanya disebabkan oleh merek terkenal yang mereka usung, tapi  juga kemampuan membaca keinginan pasar domestic.

Ryota Inaba, Presiden Direktur dan CEO PT Rakuten-MNC juga memiliki pandangan serupa. Malah dalam acara  Ramalan Tren E-commerce 2013 beberapa waktu lalu ia mengatakan, saat ini telah terjadi pergeseran transaksi  dalam belanja online. Kalau biasanya orang membuka situs belanja online dengan menggunakan laptop dan PC,  maka kini sudah banyak yang menggunakan perangkat mobile. Tahun 2013 ini, ia menyaarankan agar para pebisnis  ritel membuat peningkatan integrasi mobile. Toko-toko harus membuat website-nya dalam versi mobile karena  penetrasi perangkat mobile terus meningkat.--Diana Runtu/Ngurah Budi

Sumber : tokoh.co.id
More aboutBisnis retail Online Makin Pesat

Retail Indonesia Berpotensi Unggul di Pasar Global

Diposting oleh Maz Duikin

Indonesia memiliki potensi dan pertumbuhan usaha ritel yang luar biasa. Karenanya bisnis ritel di Indonesia diharapkan tidak hanya unggul di pasar lokal, namun juga di pasar global. Demikian diungkapkan Danny Anthonious, Country Manager of A.S Louken Indonesia dalam seminar dengan tema ‘Retail Trends 2013: Learning to Apply Cutting Edge Retail Trends’, Senin (25/3), di Jakarta. Seminar yang diselenggarakan A.S Louken bekerja sama dengan Ebeltoft Group juga menghadirkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Pudjianto yang memaparkan tentang Retail Trends in Indonesia, Monica Lucas, Director of Pragma Consulting dari Inggris yang memaparkan tentang Emerging Strategies for Retail Business Internalization, CEO of Dia-Mart Cedric Ducrocq dari Perancis yang membahas tentang The Future of Cross-Channel in E-Commerce dan Luke Lim, CEO of A.S Louken dari Singapura yang memaparkan tentang Retail Innovation Trends from Around the Globe.

Menurut Danny, saat ini Indonesia memiliki produk-produk unggulan, mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, dan produk unggulan lain yang laris manis di pasar dalam negeri. Namun sayangnya, sangat sedikit merek lokal yang berhasil ketika dibawa keluar negeri. Bandingkan dengan Singapura, ujar Luke Lim, CEO of A.S Louken Singapura, yang juga berkesempatan memberi pemaparan dalam seminar tersebut. Menurutnya, berbagai retail brands asal negara tersebut sukses dan eksis di pasar global. Di antaranya, BreadTalk dan Charles&Keith. “Padahal banyak dari perusahaan tersebut, awalnya merupakan usaha kecil menengah di Singapura. Namun mereka sukses mengirim pesan melalui merek dan produknya kepada konsumen di mancanegara, tidak hanya di Singapura saja,” ucap Lim.

Bisnis ritel Indonesia, tegas Danny, memiliki potensi yang sangat besar untuk unggul di pasar global. A.S Louken, menargetkan akan membawa merek dan usaha ritel Indonesia untuk go global dalam beberapa waktu ke depan. “Kami ingin memberi kontribusi kepada Indonesia, baik membawa pengusaha ritel dari luar masuk ke Indonesia, maupun sebaliknya,” tandasnya.  Ditambahkan Monica Lucas, Director of Pragma Consulting, untuk menjadi sukses bukan hanya butuh peluang yang baik tapi juga konsep yang baik. “Jika kamu tidak lebih baik dari pesaing mu, kamu tidak akan sukses,” tegas Monica. Jadi, di mata customers, kamu harus lebih baik atau setidaknya setara dengan pesaingmu. Apa yang kamu beri pada costumers, apakah itu produk, harga, service?” ucap wanita asal Inggris ini. --Diana Runtu/Ngurah Budi

Sumber : tokoh.co.id

More aboutRetail Indonesia Berpotensi Unggul di Pasar Global

Bisnis Retail Asing Terus Mengincar Pasar Indonesia

Diposting oleh Maz Duikin

Pusat belanja terus mengalami pertumbuhan, seiring menjamurnya permukiman baru yang ada ditengah kota Jakarta yang kian padat. Meski bergejolaknya regulasi pemerintah akan jumlah pusat belanja. Diharapkan,tidak akan berpengaruh akan keberadaannya

Pertumbuhan properti yang kian meroket, memicu bermunculannya gedung-gedung pencakar langit. Keberadaannya pun seolah mengepung jakarta. Tak hanya pusat perkantoran, tapi juga kawasan permukiman di tengah kota yang menyatu dengan area terpadu (superblok).

Untuk memenuhi kebutuhan itu, beberapa developer besar mengembangkan kawasan permukiman dan melengkapi pusat belanja didalamnya. Melihat potensi berkembangkan sebuah pusat belanja. Lewat researchnya selama ini, Martin Hutapea, Consulting and Research DTZ menjelaskan, cumulative stock major shopping mall di Jakarta pada kuartal tiga tahun 2011 mencapai angka hingga 1.87 juta meter persegi, termasuk kontribusi dari Kalibata City dan Paragon Hayam Wuruk pada tahun ini.

Seiring dengan kenaikan permintaan dan masuknya dua mall di atas, maka adapun dampaknya terhadap tingkat hunian. Occupancy rate mengalami kenaikan hingga 87% di kuartal ketiga tahun ini.

“Berdasarkan jenis retailnya, permintaan terkuat datang dari pangsa pasar bisnis fashion. Sejak awal kuartal tahun ini, permintaan dari bisnis fashion sebesar 36% dan diikuti oleh food & beverage sebesar 35%. Sisanya sebesar 29% berasal dari beberapa kategori bisnis seperti watches, shoes, bags, jewelry, supermarket, gadgets dan sebagainya,” jelas Martin Hutapea.

“Banyaknya permintaan untuk ruang retail justru datang dari pemilik merek ternama baik internasional maupun lokal yang sudah mapan di pasaran,” terangkan Martin. “Space areanya, mereka membutuhkan luasan tokonya mulai dari 100 sampai 300 meter persegi. Sedangkan untuk kebutuhan supermarket, bisa mencapai kisaran 2.000 meter persegi,” tegasnya melengkapi.Lebih lanjut Martin menerangkan, kisaran rata-rata untuk harga sewanya sendiri untuk typical floor berkisar sekitar Rp 340 ribu permeter persegi perbulannya. Angka ini  relatif stabil jika dilihat dari pergerakan secara kuartal.

Umumnya dari beberapa pengembang yang terkonsentrasi mengembangkan pusat perbelanjaan di level atas. Mereka yang giat membangun pusat perbelanjaan beberapa diantaranya adalah Ciputra, Agung Podomoro dan Lippo Group. Contoh beberapa proyek mereka yaitu Ciputra World, Kuningan City,  Kemang Village dan Puri Village.

Pemain bisnis retail yang terus agresif berekspansi di tiap mega proyek untuk mengendalikan pasar terbesar di Jakarta, dua diantaranya dengan hadirnya Lotte Mart dan Debenham yang telah melakukan pre-commitment di beberapa mega proyek.

Besar pasokan kebutuhan akan ruang perbelanjaan secara menyeluruh diharapkan mengalami kenaikan pertumbuhannya. “Lewat analisa ini, kami berharap hingga tahun 2012 pasokan itu akan tumbuh sekitar 630.000 meter persegi,” paparkannya.

Pengereman sementara pembangunan mall yang diusulkan gubernur DKI Jakarta melalui moratorium, semoga saja tidak akan mengganggu bisnis retail, karena ini bisa saja berdampak pada semakin terbatasnya ruang ekspansi bisnis retail di masa yang akan datang. Pada gilirannya nanti, kenaikan tingkat hunian untuk retail, kemungkinan akan mengalami peningkatan.

Beberapa perusahaan dari luar negeri yang bergerak di bidang retail melihat Indonesia sebagai negara besar yang memiliki kekuatan pertumbuhan ekonominya terus berkembang. Potensi bisnis di sektor ini akan terus maju seiring pertumbuhan properti di Indonesia,” tegaskannya kembali. Momentum inilah yang saat ini dimanfaatkan oleh beberapa retail asing seperti Uniqlo (Japan) dan Metro Group (German) akan masuk ke pasar Indonesia.
More aboutBisnis Retail Asing Terus Mengincar Pasar Indonesia

Bisnis Retail Makanan Sangat Menjanjikan di Indonesia

Diposting oleh Maz Duikin

Akhir – akhir ini semakin banyak orang – orang yang melakukan bisnis yang inovatif diantaranya yang paling santer adalah bisnis retail atau disebut juga pasar modern, hyper market dll. Yang berhubungan dengan penjualan makanan, ternyata bisnis ini cukup menjanjikan dikarenakan pada tahun 2010 saja bisnis ini maju pesat dan di perkirakan pada tahun ini total belanja dalam bisnis ini mencapai 100 trilyun.

Bisnis ritel makanan ini menjajnjikan karena setiap manusia tidak luput dari kebutuhan makan maupun minum bahkan kebutuhan non makanan. Sehingga bisnis retail ini menyaingi pasar – pasar tradisional yang ada di Indonesia.

Hipermarket mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 2010 industri hipermarket di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan, total belanja ritel modern tahun ini bakal mencapai Rp 100 trilyun. Sebanyak Rp 65 triliun merupakan belanja makanan dan sisanya non-makanan. Dari jumlah belanja makanan ini, hipermarket mengambil porsi 35 persen, minimarket 35 persen dan supermarket 30 persen. Makanan yang merupakan kebutuhan pokok manusia, mengharuskan kita mau tidak mau untuk berbelanja makanan dan minuman setiap harinya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa mini market dan hypermarket pertumbuhannya sangat pesat

Pertumbuhan gerai ritel makanan di hypermarket rata rata 30% per tahun dan supermarket 7% per tahun dan convenience store/mini market sekitar 15%. Pada tahun 2003, penjualan sektor ritel modern makanan dikuasai oleh supermarket 60%, hypermarket 20% dan sisanya 20% oleh convenience store/mini market.

Potensi pengembangan ritel makanan (Grosery) didaerah-daerah. Permintaan produk kebutuhan sehari-hari (consumer goods) masih merupakan permintaan utama. Produk bahan makanan (groceries) mendominasi sekitar 67% komposisi penjualan barang perdagangan ritel. Sementara untuk produk non-pangan, penjualan pakaian dan sepatu memberikan kontribusi sebesar 30% barang perdagangan ritel, diikuti penjualan barang-barang elektronik sebesar 12%, dan penjualan produk kesehatan dan kecantikan sebesar 11%. Potensi pengembangan pasar ritel modern di Indonesia masih relatif besar terhadap jumlah populasi penduduk. Jumlah toko ritel modern per satu juta penduduk Indonesia saat ini sekitar 52, lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya seperti Malaysia 156 toko, Thailand 124 toko, Singapura 281 toko, dan China 74 toko. Jumlah toko ritel modern di Indonesia hanya menempati porsi yang sangat kecil (0,7%) dibandingkan dengan jumlah toko tradisional per satu juta penduduk Indonesia yang mencapai 7.937 toko.

Format minimarket mengalami pertumbuhan tertinggi, baik dilihat dari sisi jumlah gerai toko maupun pangsa perdagangan ritel penjualan produk fast moving consumer goods (FMCG). Jumlah minimarket di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 10.607 toko dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 17,3%, tertinggi dibandingkan format ritel modern lainnya, disusul hypermarket dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 16,9%. Sementara itu, pangsa perdagangan ritel minimarket untuk penjualan produk FMCG meningkat cukup signifikan dibandingkan format lainnya, yaitu dari sebesar 5% di tahun 2003 menjadi 16% di tahun 2008.

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPP) telah mengambil langkah inisiatif strategis untuk mengkaji dan menganalisa kegiatan bisnisnya secara keseluruhan, terkait dengan rencana perusahaan mengembangkan kompetensi inti dalam bisnis hypermarket-nya. Sebagai pelopor compact hypermarket di Indonesia dengan model bisnis yang telah teruji, akan terus berfokus kepada bisnis ritel makanan, melalui fase ekspansi Hypermart ke semua daerah di Indonesia. Selain itu, streamline semua bisnis non-inti lainnya/bisnis non-hypermarket, guna memastikan bahwa semua sumber daya MPP dioptimalkan 100%, untuk mendorong pertumbuhan bisnis Hypermart. Indonesia merupakan negara berpotensi besar dan memiliki pertumbuhan pasar yang paling menarik secara global diantara negara berkembang lainnya. Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dengan segmen kelas menengah yang meningkat, ekonomi yang ditopang oleh basis konsumen yang kuat, daya beli yang terus meningkat dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi tahunan yang kokoh. Sampai saat ini, ekonomi berbasis konsumen yang kuat ini telah mendorong pertumbuhan PDB negara dan diprediksikan akan terus tumbuh rata-rata 5,6% per tahun sampai dengan tahun 2014, sedangkan PDB perkapita diperkirakan akan tumbuh sebesar 11,3% sampai dengan tahun 2014 dan akan melampaui batas US$ 3.000 di tahun 2012.

Pertumbuhan daerah-daerah di Indonesia juga berlangsung pesat akhir-akhir ini, baik dari sektor ekonomi, pariwisata maupun pendidikan. Dimana setiap daerah berkembang dengan potensinya masing-masing. Pertumbuhan pariwisata dan meningkatnya populasi ekspartriat, menyebabkan peningkatan jumlah impor. Riteler besar seperti Carrefour Indonesia, Matahari Putra Prima Tbk, dan Hero Supermarket berhasil meningkatkan penjualan merek, melalui penjualan produk-produk private label, penawaran promosi yang menarik, dan ekspansi ke daerah-daerah dan pasar yang belum jenuh.

Sumber :blogdetik
More aboutBisnis Retail Makanan Sangat Menjanjikan di Indonesia

Pasar tradisional dan peritel modern

Diposting oleh Maz Duikin

Peran pemerintah dalam pengelolaan pasar tradisional dan ritel modern. Keberadaan pasar modern yang meliputi minimarket, supermarket, hingga hipermarket tidak dapat dihindari. Untuk dapat bersaing, pasar tradisional harus diperkuat agar konsumen tidak beralih. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Ihwan Sudrajat mengemukakan hal tersebut di Kota Semarang, Rabu (24/6). Menurut Beliau, pasar modern memiliki segmen pasar tersendiri sama seperti pasar tradisional, sehingga pilihan sepenuhnya terletak pada konsumen.

Kita tidak dapat membatasi pasar modern, karena pendiriannya pun berdasarkan adanya permintaan pasar. Yang harus dilakukan adalah melindungi pelaku UMKM dan pasar tradisional. Ini adalah tugas dari pemerintah. Aturan untuk keberadaan pasar modern ada dalam Keputusan Presiden Nomor 112 Tahun 2008 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. Dalam Pasal 5 diatur perihal letak pasar modern segala ukuran, dari hipermarket yang terbesar hingga minimarket yang terkecil. Dalam aturan tersebut disebutkan, hipermarket hanya diperbolehkan berlokasi pada akses jalan utama, supermarket tidak diizinkan berada pada lingkungan perumahan, dan minimarket diperbolehkan berada di akses jalan pada lingkungan permukiman di kota.

Sementara itu, penguatan terhadap pasar tradisional, dilakukan dengan program penataan pasar. Sektor perdagangan mendapatkan alokasi dana stimulus sebesar Rp 335 miliar yang digunakan untuk program revitalisasi dan renovasi pasar tradisional sebesar Rp 215 miliar, dan pergudangan Rp 120 miliar. Menurut data yang diperoleh VIVAnews dari salah satu anggota dewan, sebanyak 123 kabupaten/kota di 11 provinsi rencananya mendapat alokasi stimulus pasar sebesar Rp 215 miliar.

Pemerintah telah menerima sedikitnya 600 proposal dari 300 daerah di seluruh Indonesia untuk program revitalisasi pasar tradisional. Semua proposal yang masuk ke Departemen Keuangan akan dibahas pelaksanaannya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo di Kantor Pengawas Persaingan Usaha mengatakan, ada sekitar Rp 235 miliar dana revitalisasi pasar yang disalurkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Perbantuan dari Pemerintah Daerah. Dari proposal yang masuk ke Departemen Perdagangan, jenis revitalisasi bermacam-macam. “Ada yang rehabilitasi total, pertambahan luasan, atau renovasi saja,” katanya. Dana yang disiapkan untuk revitalisasi pasar tradisional tersebut, menurut Gunaryo mulai Rp 3 miliar atau tergantung daerah dan besaran kasus yang terjadi. “Kini sedang dibahas di Menteri Keuangan,” tutur Gunaryo.

Proposal rehabilitasi pasar tersebut, katanya, harus melalui persetujuan Dinas PU di daerah terkait standar bangunan. Gunaryo menambahkan untuk program revitalisasi pasar tradisional mulai tahun depan, Pemerintah daerah berkomitmen untuk menambah anggaran pembinaan pasar. Dana stimulus revitalisasi pasar tradisional tahun ini dikucurkan melalui Departemen Perdagangan lewat Dana Alokasi Khusus.

Kelemahan pasar tradisional yang harus segera dibenahi :

1. Kurangnya pengelolaan pasar yang baik menyebabkan tutupnya beberapa pasar tradisional.

2. Kurang nyamannya berbelanja di pasar tradisional, terutama masalah kebersihan.

3. Kurangnya modal peritel tradisional untuk bisa mengembangkan usahanya.

4. Harga yang lebih mahal untuk produk tertentu dibanding harga di pasar modern.

Sumber :blogdetik
More aboutPasar tradisional dan peritel modern

Strategi pengelolaan bisnis retail modern yang kreatif dan inovatif

Diposting oleh Maz Duikin

Para pelaku bisnis ritel, baik modern maupun tradisional, harus lebih meningkatkan promosinya. Menurut data dari Lembaga Riset Nielsen Indonesia, sepanjang semester pertama 2010, konsumen belum terlalu memprioritaskan uang belanja untuk membeli makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan harian. Konsumen kelas menengah, justru lebih memilih belanja kendaraan atau elektronik.

Pertumbuhan penjualan ritel nasional sepanjang Januari sampai Mei lalu baru mencapai 9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009. Angka tersebut jauh tertinggal dari pertumbuhan sektor lainnya. Pertumbuhan penjualan mobil menduduki angka tertinggi 73,5 persen. Begitu pula sepeda motor sebesar 35,2 persen. Penjualan elektronik rumah tangga juga meningkat 32,35 persen, sedangkan komputer naik 30 persen.

Saat ini tengah terjadi pergeseran perhatian konsumen dalam membelanjakan anggaran bulanannya. Terutama kelas menengah atas, masih memilih belanja big ticket item (mobil, motor, elektronik). Yang secara tidak langsung, mengindikasikan masyarakat kita semakin mapan.

Seiring berkembangnya teknologi, gaya hidup masyarakat juga ikut berubah. Sebelum ada teknologi, saat ada waktu luang konsumen bisa pergi ke warung atau belanja. Begitu ada ponsel dengan segala kecanggihannya, punya waktu luang sedikit langsung online. Rekreasi di dunia maya dirasa lebih mengasikan, daripada pergi ke pasar tradisional atau supermarket dan hypermarket sekalipun.

Sepanjang 2009, total belanja konsumen untuk ritel 56 kategori produk mencapai Rp 99, 653 triliun (tidak termasuk telur, cabai, beras, dan beberapa sembako). Sementara itu, pada Januari sampai Mei 2010, total uang yang sudah terbelanjakan Rp 44,685 triliun.

Nielsen melakukan riset tentang tren belanja masyarakat dengan cara wawancara face to face di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan. Responden adalah pria dan perempuan usia 15-65 tahun. Total 1.781 narasumber memiliki kemampuan belanja lebih dari Rp 1,250 juta per bulan. (gen/c6/kim)

Pengusaha ritel sebaiknya lebih kreatif mengemas tempat berjualan, kemudian mempromosikannya dengan lebih menarik lagi. Berdasar hasil survei yang dilakukan Nielsen, 19,8 persen konsumen mengungkapkan bahwa faktor nonfood (kenyamanan tempat, kemasan, promosi, dll) merupakan alasan mereka untuk datang ke tempat belanja.

Manajemen SDM mempunyai peranan signifikan dalam sebuah bisnis ritel. Mengkoordinasi dan memotivasi karyawan dalam pencapaian target. Sampai pada akhirnya terbentuklah sebuah komitmen kerja, yang bisa menyatukan antarkaryawan, sehingga menghasilkan keuntungan yang kompetitif. Aspek pemilihan lokasi dalam bisnis ritel juga sangat berpengaruh. Pemilihan lokasi yang memungkinkan bisnis ritel untuk tumbuh, mengevaluasi keunggulan dari setiap area perdagangan yang dipilih. Sedangkan sistem keuangan, merupakan perefleksian strategi ritel menyangkut metode pengelolaan sumber daya (modal, alat-alat, SDM, dan dll) sehingga tercapai kinerja yang optimal.

Demikian, bisnis ritel makanan memang sangat menjanjikan. Dilihat dari pertumbuhannya yang sangat pesat setiap tahunnya. Ditambah, pangsa pasar Indonesia sendiri sudah sangat menjanjikan, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dengan segmen kelas menengah yang meningkat, ekonomi yang ditopang oleh basis konsumen yang kuat. Tapi bagaimanapun juga, sukses tidaknya sebuah bisnis, sangat bergantung pada strategi dan menejemen pengelolaan. Semuanya kembali pada pelaku bisnis itu sendiri

Sumber :blogdetik.com

More aboutStrategi pengelolaan bisnis retail modern yang kreatif dan inovatif

Cara Cerdas Berbisnis Retail

Diposting oleh Maz Duikin

Jika disebut tahun 1998 apa yang muncul di benak anda? Benar, krisis ekonomi. Krisis yang tidak hanya meluluhlantakkan bisnis tapi juga Negara yang di terjangnya. Krisis ekonomi yang tidak hanya melanda Negara-negara berkembang tetapi juga Negara maju. Banyak yang bangkrut usahanya karena tidak bisa bertahan di saat krisis, banyak yang di PHK karena perusahaan banyak yang tutup. Benar-benar kondisi yang tidak di inginkan oleh kebanyakan masyarakat khususnya Negara Indonesia yang termasuk Negara berkembang.

Perusahaan gulung tikar, memindahkan usaha nya ke Negara lain atau menutup sebagian pabriknya di Negara berkembang. Tidak semua bisnis memang yang terkena terjangan Krisis ekonomi yang membuat usaha nya tutup. Dari sedikit bisnis yang tahan akan krisis, Bisnis Retail adalah salah satu bisnis yang justru bukan hanya tahan akan krisis tapi juga terus bertumbuh.

Timbul pertanyaan besar di benak kita, kenapa Bisnis Retail saat krisis ekonomi melanda dapat tumbuh berkembang di saat bisnis lain berguguran satu persatu. Hal ini di sebabkan oleh barang kebutuhan sehari-hari tidak memandang krisis, seperti makanan, minuman, keperluan perawatan tubuh contohnya sabun mandi, odol, shampoo, dll. Barang kebutuhan sehari-hari tersebut mutlak di perlukan meskipun krisis melanda negeri ini.

Bisnis ritel di Indonesia beberapa tahun terakhir telah menjadi fenomena di Asia, khususnya di antara Negara berkembang. Indonesia bahkan menempati peringkat tiga pasar ritel terbaik di Asia. Berdasarkan catatan konsultan manajemen dunia, AT Kearney, yang mengeluarkan laporan pertumbuhan industry ritel terbaik di sejumlah Negara di dunia, Indonesia masuk ke dalam Negara dengan ritel yang baik.

Usaha kecil mikro biasanya usaha yang muncul dan tumbuh secara otodidak oleh pemilik usahanya. Pengusahanya tidak jarang fokus mulai dari memproduksi maupun menjual dan mengendalikan manajemen dengan sederhana. Namun, usaha kecil mikro ini potensial menjadi besar asalkan dikembangkan dengan manajemen bisnis yang moderen.. Kunci dari keberhasilan pengembangan bisnisnya adalah, mengubah manajemen bisnis secara moderen. Nah, strategi ini sayangnya belum banyak dipahami oleh pelaku usaha Mikro Kecil, dan tidak tahu bagaimana manajemen bisnis tersebut bisa dimiliki dan diaplikasikan untuk usahanya.

Solusinya, anda bisa mengikuti kursus atau seminar yang khusus untuk Usaha ritel,

Dimana anda akan mendapatkan pengetahuan atau pelatihan tentang bagaimana

    Memilih lokasi yang terbaik untuk bisnis anda dengan memberikan metode survey yang biasa di gunakan oleh peritel skala International
    Strategi mengevaluasi produk mampu bersaing di pasaran
    Strategi menjaring pembeli tidak hanya tertarik pada produk utama
    Strategi menetapkan harga jual yang bersaing dan profitable
    Promosi yang tepat sesuai produk dan segmen pasar
    Cara Cerdas Launching usaha, dengan membuat Grand Opening yang menarik
    Mengetahui strategi Marketing untuk meningkat omset yang paling realistis.
    Mendesain toko agar lebih hidup
    Membuat Lay out dan penataan barang yg efektif
    Meminimalisir kerugian akibat pencurian dll.
    Lounching usaha dg cara hemat, tapi berdambak hebat.
    Merancang agenda promosi yg tidak ada habisnya
    Merancang system Retail Modern
    Membuat SOP sederhana, tapi mudah di aplikasikan
    Penggunaan Software yg terintegrasi.

Nah kalau sudah dapat ilmunya , bolehlah untuk segera dipraktikkan , buka toko dengan manajemen sekelas supermarket sehingga bisa mendatangkan banyak pelanggan dan pundi pundi keuangan anda bisa semakin meningkat , syukur syukur bisa berkembang hingga jadi hypermarket.

More aboutCara Cerdas Berbisnis Retail

Carrefour Rambah Bisnis Minyak Kelapa Sawit

Diposting oleh Maz Duikin

Perusahaan retail asal Prancis, Carrefour, merambah bisnis baru dengan memasarkan minyak goreng merek Carrefour ECOplanet. Produk tersebut diklaim sebagai minyak goreng pertama di Indonesia yang sudah bersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Indonesia.

Sebagai pemain baru di industri minyak kelapa sawit, inisiatif Carrefour menghadirkan Carrefour ECOplanet ini dapat memperkuat posisi Carrefour sebagai salah satu perusahaan retail yang berencana akan mulai mengembangkan penyerapan dan pembudidayaan minyak kelapa sawit di Indonesia. “Peluncuran minyak goreng Carrefour ECOplanet ini diharapkan dapat membuka jalan dan inspirasi bagi pelaku industri lain yang ada di rantai pasokan minyak sawit Indonesia dalam mengubah pasar industri minyak sawit menjadi industri yang berkelanjutan,” ujar Corporate Affairs Director PT Carrefour Indonesia, Adji Srihandoyo, Senin (16/7).

Ia menjelaskan, minyak goreng Carrefour ECOplanet terbuat dari 100% minyak sawit yang berasal dari Indonesia. Produk tersebut juga telah diaudit dengan kontrol keamanan yang ketat dan mempertimbangkan aspek lingkungan agar menjadi produk yang memiliki kadar karbon yang rendah.

“Proses sertifikasi RSPO yang sangat ketat dilakukan di perkebunan kelapa sawit yang lestari mulai dari hulu ke hilir dalam rantai pasokan industri minyak sawit. Hal ini merupakan refleksi bahwa minyak sawit berkelanjutan jelas bertolak belakang dengan pengrusakan hutan tropis, dan berupaya menjaga kepentingan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar perkebunan kelapa sawit,” tuturnya.

Sebagai informasi tambahan, sejak tahun 2010, Carrefour telah membeli sertifikat GreenPalm RSPO untuk produk-produk merek Carrefour yang dijual di Prancis. Di Indonesia sendiri, Carrefour sudah mulai mengembangkan pencanangan aspirasinya menuju penggunaan 100% minyak sawit berkelanjutan yang bersertifikat Certified Sustainable Palm Oil (CPO) selambat-lambatnya tahun 2015 mendatang.

July 24, 2012 By Marina Silalahi

More aboutCarrefour Rambah Bisnis Minyak Kelapa Sawit

Persaingan bisnis retail di indonesia

Diposting oleh Maz Duikin

Seperti yang kita ketahui persaingan bisnis retail di Indonesia menunjukan pertumbuhan yang cukup signifikan. Dikarenakan potensi pasar di Indonesia masih cukup besar dan menguatnya usaha kelas menengah dan kecil, telah menambah banyaknya kelompok masyarakat berpenghasilan menengah-atas yang memiliki gaya hidup belanja di ritel modern salah satunya adalah minimarket.

Persaingan bisnis retail ini tidak terlepas dari berbagai macam strategi dan tujuan yang ingin dicapai perusahaan tersebut, beberapa tujuan yang biasanya ditetapkan adalah maksimalisasi penjualan, maksimalisasi keuntungan, maksimalisasi pengembalian investasi dan minimalisasi biaya.

Persaingan bisnis ini dapat dilihat dari omset yang didapatkan masing- masing minimarket dalam rangka memaksimalisasi keuntungan. Serta seberapa banyak cabang atau gerai yang dapat dibuka oleh perusahaan minimarket tersebut. Sebut saja minimarket A yang dalam waktu dekat dapat membuka cabang lebih banyak dari minimarket B yang tersebar diberbagai kota besar maupun pelosok- pelosok desa yang biasanya letaknya berdekatan (bersebrangan jalan atau beda blok). Selain itu persaingan juga dapat terlihat dengan adanya kerjasama yng dilakukan oleh minimarket A dengan perusahaan tertentu, dan membuka cabang lain yang masih berada dalam satu naungan perusahaan yang sama. Hal ini merupakan suatu strategi dalam persaingan bisnis retail. Keberhasilan dalam menarik perhatian konsumen tidak terlepas dari strategi- strategi bisnis yng diterapkan perusahaan minimarket tersebut.

More aboutPersaingan bisnis retail di indonesia

Pertumbuhan Bisnis Ritel Bakal Mandek Tahun Ini

Diposting oleh Maz Duikin

Jakarta - Pertumbuhan ritel di Indonesia untuk tahun 2013 diperkirakan tidak sebesar di tahun 2012. Kalangan pengusaha menganggap banyaknya peraturan membuat bisnis ini jalan di tempat.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Asprindo) Pudjianto menjelaskan ini terjadi akibat kebijakan yang salah yang dikeluarkan oleh pemerintah.

"Kalau kita bicara pertumbuhan mengenai pertumbuhan ritel di tahun 2011-2012 itu 11-12%. Kita tidak muluk-muluk di tahun 2013 ini hanya di bawah double digit karena banyak peraturan yang memberatkan pelaku usaha," tutur Pudjianto saat berdiskusi dengan tema Retail Trends 2013 di Gedung WTC Jakarta, Senin (25/3/2013).

Contoh peraturan yang diakuinya memberatkan pelaku usaha adalah peraturan waralaba ritel yang mengatur kepemilikan gerai. Kementerian Perdagangan mematok hanya 150 gerai yang dimiliki oleh sendiri (company owned) sedangkan sisanya wajib diwaralabakan ke publik.

"Peraturan soal waralaba (ritel) yang sangat menghambat terutama bagi pemula yang akan membuka usaha. Dalam peraturan itu tertuang yang punya 150 milik sendiri boleh di franchise-kan tetapi namanya pemula ini susah untuk mencari franchisee-nya. Berbeda dengan perusahaan besar yang sudah mempunyai 7.000 gerai," imbuhnya.

Selain itu peraturan lain yang memberatkan pelaku usaha ritel lainnya adalah pengenaan upah khusus sektoral bagi pekerja ritel. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa kalangan ritel akan dikenakan upah minimum sektoral dengan perhitungan 5% lebih besar dari UMP standar di 2013.


Ia menyebut tahun ini adalah tahun yang berat bagi kalangan pelaku usaha ritel. Selain regulasi, masalah infrastruktur yang buruk menambah tekanan bagi pelaku bisnis ritel.

"Tahun ini tahun berat. Kita hanya retailer dan hanya mengadu kepada prinsipal. Kalau prinsipal untung dan ruginya selalu double digit kita hanya 2-3% per tahun. Kita harus melakukan pembicaraan kepada supplier. Peraturan yang berubah-berubah jelas pusing kita ditambah infrastruktur kita belum siap. Yang menjadi masalah juga adalah security (keamanan) di Indonesia. Bagaimana kalau brand Internasional masuk Indonesia jelas kita harus berubah," katanya.

More aboutPertumbuhan Bisnis Ritel Bakal Mandek Tahun Ini

Perusahaan Ritel Indonesia Masih Tertinggal dengan Singapura

Diposting oleh Maz Duikin

Jakarta - Indonesia mempunyai berbagai perusahaan ritel maupun franchise atau waralaba. Sayangnya pertumbuhan dan perkembangan ritel maupun franchise di Indonesia masih berkutat di pasar domestik.

Country Manager of A.S Louken Indonesia Danny Anthonius menuturkan paradigma pola bisnis ritel maupun franchise di Indonesia harus berubah tidak hanya unggul di tingkat lokal namun bisa berbicara di tingkat global.

"Indonesia memiliki potensi pertumbuhan ritel yang luar biasa. Oleh karenanya bisnis ini diharapkan tidak hanya unggul di pasar lokal tetapi unggul di pasar global," katanya saat berdiskusi dengan tema Retail Trends 2013 di Gedung WTC Jakarta, Senin (25/3/2013).

Saat ini menurutnya Indonesia memiliki produk-produk ritel unggulan mulai dari makanan, pakaian, pendidikan dan produk unggulan lainnya yang laris manis di pasar dalam negeri. Sayangnya sangat sedikit merek lokal yang berhasil ketika dibawa ke luar negeri. Oleh karena itu, pihaknya akan membawa merek dan usaha ritel untuk go international dalam beberapa waktu ke depan.

"Apa yang dilakukan A.S Louken adalah komitmen untuk mendukung pengusaha ritel di Indonesia," katanya.

Sementara itu di tempat yang sama, CEO of A.S Louken Singapura Luke Kim memaparkan bahwa ritel asal Indonesia dipandang masih kalah dengan perkembangan ritel Singapura di kancah global. Sebagai contoh saat ini produk ritel asal Singapura BreadTalk sudah mendunia lewat produknya.

"Coba bandingkan dengan Singapura, berbagai ritel asal negara ini sukses dan eksis di pasar global. Sebut saja BreadTalk hingga Charles & Keith. Padahal ritel ini awalnya merupakan usaha kecil menengah di Singapura tetapi mereka sukses mengirim pesanan melalui merek dan produk kepada konsumen di mancanegara," cetusnya.

Wiji Nurhayat - detikfinance

Senin, 25/03/2013 11:21 WIB
More aboutPerusahaan Ritel Indonesia Masih Tertinggal dengan Singapura

Trans Retail Bidik Buka 10 Gerai Carrefour di Medan

Diposting oleh Maz Duikin

Medan - CT Corp melalui anak usahanya PT Trans Retail akan mengembangkan pasar retail di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Dalam lima tahun ke depan diproyeksikan akan ada 10 gerai baru Carrefour di Medan.

Saat mengunjungi gerai Carrefour di Medan Fair Plaza, Jalan Gatot Subroto, Medan, Jumat (8/2/2013) pemilik CT Corp, Chairul Tanjung menyatakan, ekspansi usaha merupakan salah satu prioritas dalam pengembangan bisnis perusahaan tersebut.

“Saya berharap lima tahun lagi akan ada 10 yang akan kita miliki di Medan ini,” kata Tanjung.

Ekspansi bisnis, kata Tanjung, merupakan langkah yang harus diambil untuk menghadapi persaingan pasar. Jika tidak dilakukan, maka akan ketinggalan dengan pemain di pasar sejenis.

“Saya akan keliling ke beberapa lokasi, melihat-lihat lokasi untuk pengembangan itu,” kata Tanjung.

Disebutkan Tanjung, mengambil saham 100 persen saham Carrefour Indonesia pada November tahun lalu, perkembangan Carrefour membaik. Selama masa transisi dua bulan ini tidak ada sesuatu yang berubah. Malah pekerja semakin bersemangat, dan ini menjadi modal penting dalam pengembangan ke depan.

“Kita punya hak memakai nama Carrefour selama lima tahun hingga Januari 2018. Setelah itu akan berganti nama. Nama itu masih digodok saat ini,” kata Tanjung.

Khairul Ikhwan - detikfinance

Jumat, 08/02/2013 14:58 WIB



More aboutTrans Retail Bidik Buka 10 Gerai Carrefour di Medan

Indomaret galakkan sistem waralaba

Diposting oleh Maz Duikin

PT Indomarco Prismatama pengelola gerai ritel Indomaret mulai  mendorong mitranya di Sumatra Utara untuk menerapkan sistem waralaba. Bintang H. Harianja, Location Manajer PT Indomarco Prismatama, menegaskan sampai Juni tahun ini total oulet Indomaret yang sudah beroperasi di Sumut mencapai 130 toko.

“Sebelumnya, kami masih menggembangkan outlet sendiri selama dua tahun. Akan tetapi, memasuki tahun ketiga kami mendorong masyarakat melakukan investasi untuk mengembangkan sistem waralaba,” ujarnya kepada Bisnis di Medan hari ini.

Menurut dia, sistem yang ditawarkan kepada pemodal di Medan adalah menyediakan tempat strategis di daerah dan di kota Medan. Kedua, lanjut dia, tempat dan produk disediakan para investor dengan omset tertentu tidak dikenai fee. “Kalau omset yang diperleh belum sesuai ketentuan dalam perjanjian, investor tidak dikenakan fee,” ujarnya tanpa menyebutkan besaran fee yang ditarik dari peserta waralaba. Ketiga, kata dia, Indomaret menjual outlet yang sudah menguntungkan kepada investor.

Outlet yang dibangun Indomarco, tuturnya, dijual kepada investor yang berminat, sehingga pemodal tidak harus mencari lokasi lagi. Ketika ditanyakan sistem mana yang paling diminati para pemodal di Medan, dia mengakui adalah pemilik modal menyediakan tempat dan Indomaret mendrop barang. Kalau sudah mencapai ketentuan omzet yang sudah disepakati, kata dia, kemudian ditarik fee.

“Saya tidak bisa ungkap berapa fee yang ditarik dari pemodal. Yang pasti, kami mau mengajak pemilik tokok mengubah tempatnya lebih nyaman dan menyenangkan masyarakat yang berbelanja,” kata Bintang. Ide pengembangan Indomaret, kata dia, sesungguhnya ingin membantu konsumen mendapatkan tempat belanja strategis dan memuaskan dengan harga yang terjangkau.

“Kami hanya mengambil ongkos yang semestinya dikeluarkan konsumen belanja ke pusat pasar modern. Kami siap mengantarkan barang yang dibeli masyarakat ke rumah tanpa menambah harga,” ujarnya. Kemudian, lanjutnya, PT Indomarco memberikan kesempatan kepada masyarakat menata toko kelontongnya yang selama ini kesannya kumuh dan asal-asalan dengan konsep toko modern. “Kami menerima dengan tangan terbuka sistem waralaba,” tuturnya.

Sebelumnya, B. Surbakti, pengusaha Mini Market Royal di Jl Jamin Ginting Medan terpaksa mengubah tokonya menjadi Indomaret karena selama ini kurang dilirik konsumen. “Saya sudah dua tahun membuka mini market di depan SPBU Pertamina, namun kurang laku. Malah Indomaret yang disediakan SPBU Pertamina itu yang berjalan setahun ramai didatangi konsumen.” (Master Sihotang, Bisnis Indonesia)

Bisnis waralaba kini telah menjamur di Indonesia. Perkembangannya yang pesat mengindikasikan sebagai salah satu bentuk investasi yang menarik, sekaligus membantu pelaku usaha dalam memulai suatu usaha sendiri dengan tingkat kegagalan yang rendah.

Meski bisnis waralaba yang ditawarkan semakin beragam, namun untuk menjatuhkan pilihan terhadap bisnis waralaba secara tepat, terkadang mengalami kesulitan. Padahal pilihan awal akan sangat menentukan. Ada hal mendasar dalam menentukan pilihan. Paling tidak bidang usahanya stabil dan berprospek serta track record pewaralaba (franchisor) baik dan berpengalaman

Sebagai strategi ekspansi yang melibatkan modal pihak lain, bisnis waralaba mau tidak mau harus transparan dan konsepnya saling menguntungkan serta saling percaya di antara pewaralaba dengan terwaralaba (franchisee). Minimal selama 5 tahun bisnis waralaba tersebut mampu membuktikan sebagai perusahaan sehat, yang didukung oleh sistem dan format bisnis yang telah teruji.

Bidang usaha yang relatif stabil adalah bisnis ritel. Di Indonesia bisnis ini terus berkembang seirama dengan kebutuhan penduduk yang jumlahnya terus meningkat. Salah satu bisnis ritel yang melayani kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari adalah minimarket. Indomaret yang tetap konsisten berkecimpung di bidang minimarket (lokal) dikelola secara profesional dan dipersiapkan memasuki era globalisasi.

Tahun 1997 Indomaret melakukan pola kemitraan (waralaba) dengan membuka peluang bagi masyarakat luas untuk turut serta memiliki dan mengelola sendiri gerai Indomaret. Pola waralaba ini ditawarkan setelah Indomaret terbukti sehat dengan memiliki lebih dari 700 gerai , yang didukung oleh sistem dan format bisnis yang baik.

Pengalaman panjang yang telah teruji itu mendapat sambutan positif masyarakat, terlihat dari meningkat tajamnya jumlah gerai waralaba Indomaret, dari 2 gerai pada tahun 1997 menjadi 1965 gerai pada April 2011. Program waralaba Indomaret yang tidak rumit terbukti dapat diterima masyarakat. Bahkan, sinergi pewaralaba (Indomaret) dan terwaralaba (masyarakat) ini merupakan salah satu keunggulan domestik dalam memasuki era globalisasi.
More aboutIndomaret galakkan sistem waralaba

Investor Asing dan Bisnis Retail Store yang Cukup Menjanjikan

Diposting oleh Maz Duikin

Jika kita berbicara tentang shopping, pasti yang ada di otak kita pertama kali yaitu belanja, belanja dan belanja. Shopping dan pasar modal? Memangnya ada hubungannya shopping dengan pasar modal? Someone is asking these kind of question in their head. Coba kita update tentang Retail Store dari luar negeri yang mulai masuk ke Indonesia nih. Yap! Investasi asing yang lagi ramai-ramainya sekarang ini. Buat yang suka shopping di Departemen Store maupun nongkrong atau bahasanya nge-gaul di Convenience Store utamanya.


Siapa yang tidak pernah ke Minimarket? Hampir setiap saat mungkin kita mengunjungi tempat yang satu ini untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari. Memang, minimarket sangat dekat dengan konsumen, tidak mengherankan bagi kita jika sekarang banyak dijumpai retail-retail di sepanjang jalan. Salah satu sektor yang menjadi perhatian investor domestik maupun asing yaitu sektor retail. Januari 2013, PT. Temasek menguasai 26,1% saham dari PT Matahari Putra Prima Tbk. Pemilik Hypermart dan beberapa retail store lain di Indonesia. Sejak kapan tepatnya perusahaan asing sangat tertarik untuk masuk dan berinvestasi di Indonesia? 10 tahun yang lalu, Dairy Farm International Giant Sdn. Bhd. Dari Malaysia dengan PT Hero Supermarket Tbk. Mendirikan Giant hypermarket. Sejak saat itu juga banyak sekali peritel asing besar yang mulai masuk dan beroperasi di Indonesia. Peritel asing tersebut seperti Sogo, Seibu, FamilyMart (JPN) Debenhams (UK), Metro (SIN), Lotte Mart (Korsel), Ranch Market, 7-11 (USA). Karena kesuksesan peritel asing sebelumnya, kesempaan ini memicu beberapa peritel asing untuk berinvestasi juga di Indonesia. Peritel yang akan masuk seperti Uniqlo, AEON, Ministop (JPN), H&M, Ikea (SWE), Galleries Lafeyatte (FRA), Parkson (MAL), Sun Art (CHN).

Apa yang membuat bisnis retail ini menarik bagi investor asing? Setidaknya ada 3 alasan yang membuat investor asing “kepincut” untuk bisnis retail di Indonesia menurut Bapak Pudjianto VP PT AMRT.JK. alasan pertama, di tengah perekonomian global yang melambat, pertumbuan perekonomian Indonesia yang cenderung tetap stabil. Kedua, populasi penduduk di Indonesia yang lebih dari 240 juta sangat potensial untuk menjadi calon konsumen bagi para peritel. Tingginya jumlah penduduk di Indonesia menjadi peluang peritel asing untuk semakin melebarkan sayap bisnis mereka. Ketiga, karakter masyarakat Indonesia yang konsumtif dan cenderung mudah menerima merk asing dibanding merk dalam negeri. Selain itu, omset bisnis peritel di Indonesia sangat menggiurkan, berkisar Rp. 140 triliun-150 triliun.angka yang sangat fantastis. Lebih dari itu, bahkan diperkirakan omset peritel di Indonesia masih dapat tumbuh hingga kisaran 15% sampai akhir tahun 2013. Salah satunya PT. Ramayana berhasil meraih sales sebesar Rp. 7,45 triliun di tahun 2012. Dan diperkirakan masih bisa tumbuh hingga Rp. 8,51 triliun. Sedangkan, PT. Hero Supermarket pada tahun 2012 berhasil meraih sales sebesar Rp. 10,51 triliun dan net income sebesar Rp. 302,7 milyar. PT. Matahari Departemen Store juga menun

Jelas terlihat, bisnis ritel adalah investasi yang sangat menggiurkan dengan terus mengalami pertumbuhan sejak 10 tahun yang lalu. Berdasarkan sumber data Nielsen di tahun 2002, proporsi Minimarket dari keseluruhan jenis peritel lainnya adalah sebesar 4,9%. Peningkatan proporsi minimarket terlihat dengan di tahun 2005 meningkat menjadi 10,2% dan di tahun 2011 mencapai angka 22,4%. Dengan pertumbuhan retail yang semakin tinggi, kita bisa melihat kesempatan di sektor tersebut untuk berinvestasi di bisnis retail. Untuk beberapa investor yang tertarik untuk berinvestasi di bisnis retail berikut beberapa saham yang bisa dioantau: MAPI, HERO, MIDI, RANC.

Koran-jakarta.com

More aboutInvestor Asing dan Bisnis Retail Store yang Cukup Menjanjikan

Bisnis Retail Mendulang Untung

Diposting oleh Maz Duikin

Pertumbuhan penjualan mencapai 25 persen dan profit sesuai dengan yang telah dicapai tahun lalu sebesar 45 persen.Tingginya persepsi pertumbuhan retail Indonesia tecermin pada hasil riset sebuah perusahaan konsultan manajemen dunia, AT Kearney, belum lama ini. Perkembangan bisnis retail di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ternyata sudah fenomenal di Asia, khususnya di antara negara berkembang. Indonesia tercatat menempati peringkat ketiga pasar retail terbaik di Asia.

Laporan berjudul "Global Retail Development Index (GRDI) 2011" menilai kondisi industri retail di 30 negara berkembang di dunia dan memeringkatkan mereka berdasarkan sejumlah faktor, di antaranya risiko usaha, populasi penduduk, serta kekayaan yang dikaitkan dengan kondisi industri retail terkini.

Industri retail Indonesia tahun ini diperkirakan tumbuh menjadi 134 miliar dollar AS (1.206 triliun rupiah) dan melonjak menjadi 223 miliar dollar AS (2.007 triliun rupiah) pada 2015. Dalam kegiatan ekonominya, Indonesia dinilai sangat kuat dengan populasi penduduk yang mencapai 235,5 juta jiwa. Pendapatan per kapita penduduk Indonesia juga terus naik seiring pertumbuhan infrastruktur industri retail yang terus berjalan.

Tingginya potensi retail di Indonesia itu juga tecermin dalam kinerja emiten Bursa Efek Indonesia yang terus mengilap. Saham-saham emiten peretail berpeluang mencetak kinerja yang solid pada kuartal III-2012. Saat ini, muncul katalis potensi naiknya penjualan menjelang Lebaran pada kuartal III tahun ini.

Menurut analis dari Infovesta Utama, Praska Putrantyo, prospek positif saham peretail ditopang oleh kontribusi sektor konsumsi pada pertumbuhan ekonomi yang bersifat mayoritas sekitar 60 persen. Demikian pula tingkat inflasi yang cenderung menurun dalam jangka panjang dan berkurangnya angka pengangguran berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat.

"Peningkatan kinerja emiten tersebut diperkirakan terjadi karena bisnis peretail banyak menyangkut kebutuhan pokok, baik dari kelas bawah maupun kelas atas. Terlebih barang kebutuhan pokok tersebut yang selain pangan sangat dibutuhkan menjelang hari raya besar karena faktor tren dan musim," ungkap Praska Putrantyo di Jakarta, baru-baru ini.

Pola peningkatan penjualan selama kuartal III ini, menurut dia, berlangsung setiap tahun. Hal itu dapat terlihat dari rata-rata pertumbuhan penjualan secara tahunan (year on year/YoY) per kuartal II dan kuartal III pada 2011 lalu dari beberapa emiten di sektor retail.

Sejumlah emiten yang diperkirakan bakal terus melejit ialah PT Ramayana Lestari Tbk (RALS), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Hero Supermarket Tbk (HERO). Pendapatan yang rata-rata bertumbuh sekitar 15 persen pada kuartal II-2011 YoY naik tipis menjadi rata-rata sekitar 15,9 persen pada kuartal III-2011.

Peningkatan pendapatan dari sektor retail sama kuatnya dengan bidang usaha penjualan produk pakaian maupun makanan karena sama-sama dipengaruhi oleh faktor musiman. Terlebih jika penjual banyak menawarkan diskon. Untuk sektor lain seperti elektronik, Praska menyebut pengaruh dari musiman tidak terlalu besar karena lebih dipengaruhi oleh daya beli masyarakat terhadap barang yang bersifat sekunder (bukan kebutuhan pokok).


Terus Berekspansi

Pada akhir semester I-2012 kemarin, kinerja emiten retail makin bergairah. Ekspansi emiten retail menjadi pendorong optimisme kinerja positif pasar saham sepanjang 2012. Pembukaan gerai menjadi andalan perseroan selain siklus kenaikan omzet pada semester II ini. Perusahaan retail yang menyasar segmen menengah ke bawah, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), yakin bisa mencapai total penjualan 7,5 triliun rupiah.

Perseroan mencermati pencapaian omzet sampai Mei 2012 yang 29,3 persen dari total target omzet. "Sampai Mei, penjualan kami 2,2 triliun rupiah," kata Setyadi Surya, Sekretaris Perusahaan Ramayana Lestari Sentosa, saat dihubungi Koran Jakarta, kemarin.

Sementara itu, perusahaan retail lainnya, PT Aces Hardware Indonesia Tbk (ACES), juga memacu penjualan. Meski tidak menyebutkan nilainya, perseroan menegaskan indikasi penjualan sesuai proyeksi. "Pertumbuhan penjualan mencapai 25 persen dan profit sesuai dengan yang telah dicapai tahun lalu sebesar 45 persen," tutur Helen Tanzil, Sekretaris Perusahaan Ace Hardware. wan/E-12

KORAN-JAKARTA.COM-M FACHRI

More aboutBisnis Retail Mendulang Untung

Melihat Keunggulan dan Potensi Bisnis Ritel Makanan di Masa Depan

Diposting oleh Maz Duikin

Meshvara Kanjaya punya perumpamaan unik soal bisnis retail. Menurut dia, organisasi bisnis retail itu mirip dengan tentara. Kok, bisa? Alasannya, dalam bisnis retail dibutuhkan kedisiplinan tingkat tinggi dan peran sentral seorang pemimpin. "Dalam retail, pemimpin itu sangat menentukan keberhasilan bisnis," katanya pada saat peluncuran buku ini, beberapa waktu lalu.

Retail Rules adalah karya bersama Meshvara dengan Yongky Susilo. Keduanya sama-sama bersentuhan lekat dengan bisnis retail, walau di jalur berbeda. Meshvara adalah praktisi retail yang malang melintang di sejumlah perusahaan retail besar dan kini menjabat sebagai Merchandising & Marketing Director Matahari Food Business. Sedangkan Yongky adalah Retailer Service Director The Nielsen Indonesia yang telah meneliti retail selama 16 tahun terakhir.

Pada dasarnya, buku ini hendak menggambarkan evolusi bisnis retail di Indonesia, mulai kemunculan, pertumbuhan, perubahan yang terjadi, hingga masa depan bisnis ini. Bergerak dengan alur lurus, mereka memulai pembahasan dengan awal mula retail modern di Indonesia dan diakhiri dengan uraian perihal format retail masa depan.

Di Indonesia, retail modern mulai berdiri pada 1970-an. Ketika itu, Gelael membuka toko pertamanya di Jalan Faletehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dalam waktu yang tidak terpaut lama, di daerah itu pula, Hero membuka gerai pertamanya. Bob Sadino juga membuka KemChick di wilayah Kemang, Jakarta Selatan.

Pada mulanya, tidak mudah menjalankan bisnis retail ini karena masyarakat belum terbiasa berbelanja dengan format swalayan. Perbedaan pengemasan barang antara supermarket dan pasar tradisional juga menjadi kendala. Di pasar tradisional, misalnya, konsumen bisa memilih ayam hidup, lalu disembelih di hadapan mereka. Sedangkan di pasar swalayan, ayam dijual sudah dalam keadaan mati dan terpotong-potong.

Perbedaan yang sekarang terasa sepele itu ternyata dulu menjadi masalah. Menurut Meshvara dan Yongky, butuh waktu untuk menanamkan persepsi di benak konsumen pada waktu itu bahwa daging ayam yang dijual di pasar swalayan pun berasal dari ayam hidup, bukan bangkai.

Ada juga kisah lucu. Sampai satu dekade sejak kemunculannya yang pertama, supermarket selalu ditempatkan di lantai paling atas pusat perbelanjaan, bersebelahan dengan bioskop. Alasannya, supermarket dipercaya sebagai penarik arus konsumen, sehingga mereka yang mengunjungi swalayan diharuskan melewati seluruh lantai dan melihat seluruh toko di pusat perbelanjaan itu.

Pada 1980-an hingga pertengahan 1990-an, ekspansi retail di Indonesia berlangsung signifikan. Ini terutama disebabkan kebijakan pemerintah yang memberi kemudahan fasilitas bagi perusahaan yang ingin go public. Setelah itu, bisnis retail di Indonesia berkembang dengan pelbagai macam format: toko diskon, superstore, hypermarket, minimarket, dan sebagainya. Tidak semua format itu sukses bertahan. Mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri akhirnya tumbang.

Hal lain yang terjadi adalah masuknya para peretail asing dengan modal besar serta mulai mengakuisisi retail lokal dan melakukan ekspansi secara agresif. Jumlah penduduk Indonesia yang besar menjadi sasaran gurih bagi para peretail asing. Perusahaan retail asing yang pertama kali masuk ke Indonesia adalah Makro pada 1992. Sekarang sejumlah perusahaan asing, seperti Carrefour, Circle K, dan 7-Eleven, menyaingi retail asli Indonesia, seperti Indomaret, Alfamart, dan Hero.

Lalu, bagaimana format retail masa depan? Menurut buku ini, tumbuhnya konsumen muda dengan karakteristik baru akan sangat berpengaruh terhadap bisnis ini. Terbiasa dengan teknologi digital, menyukai segala yang instan, dan suka mencoba pengalaman baru. Itulah sifat-sifat konsumen muda yang jumlahnya meningkat secara signifikan di dunia.


Haris Firdaus ,

dari toko-bukubekas.blogspot.com
More about Melihat Keunggulan dan Potensi Bisnis Ritel Makanan di Masa Depan

Dari Toko mickey mouse hingga peretail hymermart

Diposting oleh Maz Duikin

Perjalanan Hypermart merintis langkahnya di Indonesia tak bisa dikatakan singkat. Mulai beroperasi pada 2004, Hypermart yang kala itu hadir sebagai peritel paling bungsu, mengejar ketertinggalannya untuk menunjukkan kepada publik: Inilah peritel asli Indonesia yang lahir dari Bumi Pertiwi dan mampu bersaing dengan peritel asing.

Kini, di usianya yang ke-8 Hypermart ingin menunjukkan bahwa keinginannya menjadi No.1 Multi Format Food Retail di Indonesia bukanlah sebuah mimpi semata. Di usia yang masih muda, Hypermart menjadi hypermarket pertama yang berhasil membuka gerai ke-81 di Indonesia.

Sejarah Berdirinya Matahari

Ide besar itu berawal dari toko kecil bernama Mickey Mouse, lebih dari 50 tahun silam. Dari Matahari, telah lahir pula Hypermart, hypermarket yang juga lahir dari bumi Indonesia.

Tahun ini Hypermart bersiap-siap membuka tokonya yang ke-82. Momentum ini sekaligus menjadi refleksi perjalanan Hypermart di Indonesia: Lahir dengan nama Mickey Mouse dan besar dengan nama Matahari. Inilah kisahnya:



Mickey Mouse

Matahari berdiri di bawah bendera PT. Matahari Putra Prima Tbk. Mulai beroperasi sejak 24 Oktober 1958. Toko pertamanya bernama Mickey Mouse, yang didirikan Hari Darmawan. Toko ini menempati gedung dua lantai seluas sekitar 150 meter persegi di Pasar Baru, Jakarta. Inilah perusahaan ritel asli pertama di Indonesia

Pada tahun 1972, Matahari berhasil menjadi pelopor konsep toko serba ada (toserba) di Indonesia. Keberhasilan itu membuat Matahari optimis untuk mengembangkan sayap dengan membuka Sinar Matahari di Bogor  pada tahun 1980.

Ekspansi bisnis Matahari yang pertama ditandai dengan mengoperasikan supermarket Super Bazaar  pada 14 Juli 1991. Pada tahun 2000, Super Bazaar berganti nama menjadi Matahari Supermarket. Pada tahun 2002, Matahari memisahkan bisnis inti menjadi bisnis independen demi kemajuan perusahaan dengan mengembangkan bisnis perusahaan baru seperti Matahari Supermarket.

Sebagai perusahaan retail pertama asli dari Indonesia, PT. Matahari Putra Prima Tbk tak ingin visinya menciptakan suasana belanja yang nyaman dan lengkap hanya sebatas impian. Didukung tenaga profesional di bidangnya yang berpayung pada visi dan misi yang sama, Matahari memperluas cakupan bisnisnya kepada pengoperasian supermarket yang dikibarkan dengan bendera Super Bazaar pada tahun 1991. Lokasi pertamanya bertempat di Pasar Baru 14.Berkat kerja keras segenap elemennya berbalut akar budaya perusahaan yang kuat, Super Bazaar berekspansi ke Melawai, Pasar Senen dan di Lengkong Bandung, Labuan. Kesuksesannya membawa Super Bazaar berkembang hingga ke kota-kota besar di luar Jakarta.

Tantangan Yang Harus Ditaklukkan

Bisnis Matahari di sektor makanan bukanlah pekerjaan yang mudah. Saat pertama kali memulai bisnisnya, Matahari mengalami banyak kerugian karena tidak memiliki pengalaman dan jam terbang dalam bidang penjualan makanan seperti daging dan buah-buahan segar.

Agar tetap eksis, Matahari mendatangkan  para ahli di bidang makanan segar untuk memberi konsultasi, membuat sistem dan menata bisnisnya. Beberapa pakar food business retail dari luar negeri juga turut didatangkan untuk memberikan pelatihan. Dengan ketekunan dan kerja kerasnya, Matahari semakin mantap mengukuhkan namanya di pasar food business retail Indonesia.

Mendalami Peluang Food Business

Prospek peluang bisnis yang positif di bidang food business membuat Matahari tak ragu melangkah untuk bereksplorasi mendirikan konsep baru supermarket. Dengan koleksi barang yang lebih lengkap dan atmosfer berbelanja yang nyaman dan bersahabat, membuat nama Matahari kian tertanam di benak masyarakat.

Kisah di Balik Ekspansi Food Business

Dalam perjalanannya melayani para pelanggan setianya, nama Super Bazaar berganti menjadi Matahari Supermarket pada tahun 2000. Kehadiran Matahari Supermarket mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat.

Berangkat dari kesuksesannya tersebut PT Matahari Putra Prima Tbk membangun 3 konsep baru supermarket yang disesuaikan dengan masing-masing target konsumennya, yaitu Super Ekonomi yang hadir dengan harga super murahnya. Konsep harga paling murah yang diterapkan pada Super Ekonomi (SE) pertama kali hadir di Beringharjo, Yogyakarta dan berkembang hingga ke SE Purwokerto, SE Tanah Mas di Semarang, serta di Depok, Super Ekonomi pertama yang langsung dikelola oleh PT Super Ekonomi (masih termasuk dalam keluarga Matahari).

Selang beberapa tahun kemudian Matahari meluncurkan program Matahari Club Card (MCC) untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan pelanggannya. Selanjutnya di tahun 2002, Matahari memisahkan bisnis inti menjadi bisnis independen demi kemajuan perusahaan dengan mengembangkan bisnis perusahaan baru seperti Matahari Supermarket.

Matahari Supermarket yang membidik pasar menengah ke atas menawarkan konsep One Stop Shopping melalui 63 gerainya yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan hingga Sulawesi. Sedangkan konsep Mega M adalah pionir konsep hypermarket pertama di Indoneia yang  gerai pertamanya berdiri di Pluit dan dilanjutkan ke Lippo Karawaci, Kedung Badak Bogor, THR Surabaya hingga Batam.

Di tahun 2003, Matahari yang telah menjadi salah satu pemimpin pasar supermarket di Indonesia memperkenalkan konsep baru yang didirikan dengan nama Market Place. Toko pertamanya didirikan di WTC Serpong lalu berlanjut ke Metropolis, Kelapa Gading, Eka Lokasari Bogor hingga ke Pakuwon Surabaya.

Perwujudan ini merupakan usaha Matahari untuk meningkatkan reputasinya sebagai market leader serta menawarkan sebuah konsep berbelanja dalam suasana yang lebih hangat dan bersahabat dengan koleksi barang yang lebih lengkap dan lebih eksklusif.

Ujian Yang Harus Dihadapi

Berkat kerja keras seluruh elemennya, Matahari Supermarket berhasil membangun reputasinya menjadi market leader. Namun di balik itu, tersimpan perjuangan panjang yang mewarnai langkah Matahari Supermarket. Sejak awal, Matahari Supermarket diposisikan bagi pasar ekonomi kelas atas. Sayangnya karena faktor lokasi yang kurang strategis dan minimnya promosi dan sosialisasi kepada masyarakat, perkembangannya melambat.

Untuk menyiasati hal ini, Matahari Supermarket berinisiatif merekrut Sumber Daya Manusia (SDM) berpengalaman dengan jam terbang tinggi, yang bisa fokus membangun Matahari Supermarket menuju masa gemilangnya. Didukung oleh berbagai program pelatihan yang rutin diselenggarakan, membuat semua elemen Matahari semakin mumpuni melakukan tugasnya.

Sebuah Langkah Baru

Tahun 2004 menjadi sebuah awal bagi inovasi Matahari yang diimplementasikan melalui pembukaan gerai Hypermart yang pertama di WTC Serpong. Dengan mengusung konsep belanja “Muraaah Banget” berbalut suasana yang nyaman, Hypermart sukses berekspansi di hampir seluruh wilayah Indonesia

Penggagasan Hypermart

Kebutuhan konsumen dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari semakin membesar. Supermarket saja tak cukup. Perlu didirikan hypermarket, sebuah konsep belanja dengan koleksi barang yang jauh lebih lengkap

Matahari memandang bahwa Marketplace bisa ditingkatkan dari supermarket menjadi hypermarket. Inovasi baru pun ditawarkan dengan mengganti Marketplace di WTC Serpong menjadi Hypermart, hypermarket Matahari yang pertama, dioperasikan 22 April 2004.

Kini Hypermart memiliki tantangan untuk mewujudkan visinya menjadi pemimpin pasar hypermarket pada tahun 2014.

Dengan konsep baru yang memudahkan konsumen menemukan barang belanjaan primer dan sekunder dalam satu tempat, Hypermart didesain dengan suasana hangat, menyenangkan dan bersahabat.

Konsep yang dibawa Hypermart mendapat sambutan positif bagi pelanggan. Tingkat kunjungan terus meningkat. Hypermart terus dikembangkan. Dalam delapan tahun terakhir telah berdiri 81 gerai. Tahun Hypermart ini bersiap-siap membuka outletnya yang ke-82.

Pembangunan gerai yang begitu cepat ini menempatkan Hypermart sebagai hypermarket yang tercepat dalam pembangunan outlet di Indonesia. Kini Hypermart memiliki tantangan untuk mewujudkan visinya menjadi pemimpin pasar hypermarket pada tahun 2012.

Penguatan Infrastuktur

Dalam menjalankan bisnis usahanya, Hypermart bersandar pada pilar-pilar pendukung yang mengantarkan Hypermart menuju masa gemilang. Di antaranya adalah, sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, kelengkapan jenis barang yang mencapai lebih dari 30.000 item dengan harga lebih terjangkau di kelasnya, hingga bentuk promosi yang dikemas secara kreatif plus dukungan lokasi yang strategis.

Visi menjadi market leader di pasar hypermarket sudah di depan mata. Namun jika tidak dipersenjatai dengan lengkap, visi itu mungkin hanya sebatas impian. Oleh karena itu dilakukan strategi untuk memenangkan persaingan.

Hypermart memang pintar mengambil hati konsumennya. Hal ini tercermin dari berbagai langkahnya dalam memanjakan konsumen. Ada satu yang menjadi trademark Hypermart dibanding para kompetitor di kelasnya. Untuk beberapa item barang, Hypermart memberikan ikon cek harga dengan ilustrasi kaca pembesar.

Ini artinya Hypermart memberikan jaminan harga termurah dibanding barang yang dijual di tempat sejenis lainnya. Jika ada yang lebih murah, Hypermart akan mengganti selisihnya 2x lipat. Kenyamanan berbelanja di Hypermart juga ditambah dengan adanya layanan jasa antar untuk produk-produk elektronik (radius tertentu) untuk para konsumennya.

Langkah ini akan terus dibarengi dengan memperkuat logistik, menyelenggarakan pelatihan rutin bagi SDM serta peningkatan sistem IT ter-up date yang mengikuti perkembangan jaman. Jaringan outlet di seluruh Indonesia juga akan terus dibuka.

Pembukaan gerai Hypermart yang ke-81, menandai kesungguhannya untuk mengukuhkan posisinya di pasar hypermarket Indonesia.

Dukungan lain yang juga berperan penting dalam menopang keberhasilan Hypermart adalah kegiatan promosinya yang kreatif dan bermanfaat bagi konsumen. Seperti iklan di media cetak yang informatif hingga promosi kartu kredit seperti Credit Card BNI diskon 35% untuk all product, diskon 50% all product bagi pemegang kartu kredit Hypermarket serta Loyalty Program Royal VKB dan lain sebagainya.

Pusat Distribusi Hypermart

Kesuksesan Hypermart tentu tak lepas dari dukungan tiga pusat distribusinya yang berperan penting dalam penyaluran barang-barang ke Hypermart dan Foodmart. Ketiga pusat distribusi itu adalah gudang Surabaya, gudang Balaraja dan gudang Cibitung. Ditambah jaringan penjualan yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, keberhasilan Hypermart sebagai salah satu hypermarket di Indonesia kian tak terbendung.

More aboutDari Toko mickey mouse hingga peretail hymermart

10 Cara Bagi Bisnis Retail Untuk Sukses

Diposting oleh Maz Duikin on Sabtu, 12 Juli 2014

Definisi retail sendiri Menurut berman dan evans (2001:3) adalah “retail consists of the business activities involved in selling goods and services to consumers for their personal, family, or household use” (definisi ini ditemukan dari universitas gunadarma).

Dapat diartikan bahwa Retail terdiri atas aktivitas-aktivitas bisnis yang terlibat dalam menjual barang dan jasa kepada konsumen untuk kepentingan sendiri, keluarga maupun rumah tangga.

Dari definisi diatas bisa dikatakan bahwa bisnis retail terdiri dari beberapa aktivitas yang saling mendukung dan mempengaruhi sehingga terjadi kegiatan perdagangan antara pedagang dan konsumen.

Jadi bisnis retail tidak bisa terdiri dari satu kegiatan saja.

Setelah mengetahui definisi Manajemen dan Retail maka bisa dirumuskan manajemen retail adalah pengaturan keseluruhan factor-faktor yang berpengruh dalam perdagangan retail, yaitu perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen. Factor-faktor yang berpengaruh dalam bisnis retail adalah place, price, product, dan promotion yang dikenal sebagai 4P.

Nah, setelah kita belajar definisi retail, mari kita kembali ke judul diatas, yakni 10 tips bagi bisnis retail untuk sukses .Siap atau tidak, ritel di Indonesia bakal menghadapi persaingan yang demikian sengit. Apalagi dengan semakin maraknya ritel-ritel asing di Indonesia yang punya kekuatan merek dan uang yang “tak terbatas”. Oleh karenanya ritel di Indonesia perlu mewaspadai atau memahami berbagai tren yang akan terjadi pada dunia ritel di masa depan. Berikut adalah 10 hal yang bisa menentukan masa depan ritel.

1. Promosi harga sudah seharusnya


Setiap ritel, baik ritel kecil maupun besar ataupun ritel untuk segmen bawah atau premium. Semuanya tak akan lepas dari promosi harga. Strategi ini seolah sudah menjadi strategi generik. Sama halnya dengan obat yang menawarkan kemanjuran strategi ini tidak bisa dijadikan strategi yang unik. Namun demikian strategi ini juga tidak bisa ditinggalkan.

Kini pilihannya adalah kapan program promosi harga ini dilakukan dan kreativitas apa yang bisa dikembangkan. Beberapa peritel merek premium berkreasi dengan menawarkan program diskon besar-besaran pada malam hari. Program midnight sale ini ternyata disambut antusias dan seolah mulai menjadi wabah di ibu kota.

Kreativitas dalam promosi harga juga tidak selalu dalam bentuk diskon. Promosi harga bisa juga dilakukan dalam bentuk cash back atau buy one get two. Namun apapun kreativitas yang dilakukan, peritel di masa depan tak akan bisa meninggalkan program promosi harga begitu saja.

2. Menjual pengalaman lebih penting

Produk yang dijual memang menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke ritel. Namun demikian, jangan terpaku pada produk tanpa menghadirkan pengalaman yang unik bagi konsumen. Yang lebih menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke Bread Talk atau Jco bukanlah roti abon atau donat rasa almond, tetapi pengalaman terhadap merek itu sendiri.

Berdasarkan riset dari Nielsen, 93 persen dari konsumen Indonesia menjadikan ritel sebagai tempat rekreasi. Mereka akan semakin banyak berbelanja jika terpuaskan oleh pengalaman yang diciptakan oleh peritel. Experience ini bisa dikembangkan melalui banyak dimensi seperti permainan dengan panca indera (tampilan, bunyi, bau, dll), maupun melalui interaksi dengan konsumen. Itulah sebabnya, menjual pengalaman akan menjadi hal yang lebih dicari oleh konsumen ketimbang produk yang dijual.

3. Berakrablah dengan teknologi

Teknologi akan berperan besar bagi ritel di masa depan. Sekalipun konsumen menganggap pergi ke ritel sebagai rekreasi, mereka tetap saja merupakan konsumen yang tidak sabaran. Di zaman serba cepat ini, mereka membutuhkan pelayanan yang cepat dari sebuah ritel.

Ada tiga macam teknologi yang akan mempengaruhi kekuatan ritel masa depan. Pertama adalah teknologi di bidang inventori, dimana peritel membutuhkan teknologi yang bisa dengan cepat mengidentifikasikan inventori dan memberi sinyal dengan cepat jika terjadi kekosongan barang. Kedua adalah teknologi di bidang transaksi. Ritel masa depan membutuhkan teknologi yang bisa membuat transaksi selesai dalam waktu lebih cepat serta tidak menciptakan antrian yang panjang. Ketiga adalah teknologi yang bisa membantu menciptakan retensi dan hubungan dengan pelanggan. Misalnya untuk menginformasikan point reward atau produk-produk baru melalui ponsel.

Teknologi seperti RFID (Radio Frequency Identification) atau LBS (Location Based Service) tampaknya akan bermunculan di masa mendatang karena teknologi semacam inilah yang bisa membantu peritel memberi pelayanan yang cepat dan tepat.

4. Mengikat konsumen dengan program loyalty

Di masa depan peritel harus punya program loyalty yang unik dan experiential bagi konsumen. Semakin banyaknya pilihan ritel membuat konsumen tidak bisa loyal kepada satu ritel. Lihat saja hasil survei di AS yang menunjukkan bahwa cuma 15 persen konsumen yang selalu datang ke ritel yang sama. Oleh karena itulah peritel harus memiliki program loyalty yang kuat untuk mengikat mereka.

Program loyalty dilakukan bukan dengan kartu anggota atau kartu diskon semata. Program loyalty harus disusun berdasarkan kebutuhan konsumen yang unik. Oleh karena itu pengumpulan dan penggalian database akan semakin penting bagi peritel. Database yang baik akan menjadi kekuatan menyusun program loyalty.

5. Co-branding dengan semakin banyak pihak

Untuk menciptakan program loyalty secara terus-menerus, peritel mau tidak mau harus melakukan co-branding dengan banyak pihak. Co-branding bisa dilakukan dengan sesama partner di dalam industri maupun partner di industri lain. Tujuannya adalah untuk memperkuat dampak promosi yang dilakukan dan mengefisiensikan program-program promosi.

Selain itu, co-branding juga membuat kreativitas ritel tidak terpaku pada program-program yang konvensional. Indomaret berkerjasama dengan Mandiri mengeluarkan kartu yang bukan hanya menjadi kartu isi ulang tetapi juga bisa dipergunakan untuk membayar listrik dan telepon di toko-toko Indomaret. Artinya Indomaret kini bukan sekadar menjual produk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga point of payment untuk berbagai pembayaran rutin.

6. Fokus kepada individu dan interaktif

Di masa depan, konsumen ingin dilihat sebagai individu dan bukan sebagai orang yang sama dengan yang lain. Mereka mengharapkan ritel memberikan banyak fleksibilitas bagi konsumen untuk menentukan apa yang mereka mau. Oleh karena itu peritel harus mempersiapkan topping dan fitur yang banyak untuk dipilih oleh konsumen. Seperti halnya eskrim, produknya boleh sama, tetapi konsumen bisa menaruh bermacam-macam tambahan di atas eskrim tersebut. Kalau perlu, konsumen akan terjun langsung ke pembuatannya sehingga mereka lebih bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

7. Totalitas dalam pelayanan akan menjadi tuntutan konsumen

Konsumen Indonesia akan semakin melihat pelayanan prima sebagai sebuah keharusan di dunia ritel. Menurut survei yang dilakukan oleh Accenture di beberapa negara, ternyata keputusan pembelian nomor satu dipengaruhi oleh pelayanan. Di Indonesia sendiri kesadaran ritel di bidang pelayanan sebenarnya sudah bertumbuh, namun demikian komitmen pelayanan ini masih terbatas pada keramahan saja. Padahal totalitas dalam pelayanan mencakup banyak aspek, mulai dari konsumen masuk sampai ke layanan purna jual.

8. Fast fashion

Peritel akan menghadapi rentang waktu yang semakin pendek dari sebuah produk untuk menjadi fashion product. Ibaratnya, kalau hari ini konsumen berebut membeli produk yang lagi “in”, maka besok, konsumen berharap produk yang lagi in tersebut sudah berubah.

Dengan perubahan yang cepat, peritel harus selalu fleksibel untuk menyediakan item-item baru dalam waktu yang relatif singkat. Ritel seperti Chico di Inggris selalu menawarkan merchadising baru setiap dua atau tiga minggu. Dengan demikian pengunjung selalu disegarkan dengan tampilan baru.

9. Green Program

Kesadaran lingkungan juga akan menghinggapi konsumen ritel. Edukasi kepedulian lingkungan seperti global warming akan semakin kuat. Akibatnya konsumen juga semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Bagi peritel, isu-isu lingkungan harus bisa ditangkap dengan baik dan diterjemahkan ke dalam program peritel.

Green program yang sekarang lagi tren dijalankan adalah pengurangan penggunaan plastik untuk membawa belanjaan. Carrefour misalnya, sudah mulai menjual kantong yang bisa dipakai terus sehingga tidak membuat pencemaran lingkungan oleh pembuangan plastik berlebihan. Beberapa peritel bahkan memberikan poin tambahan jika konsumen membawa kantong sendiri dari rumah.

10. Channel retail yang semakin kabur

Jangan kaget kalau nantinya kita sulit mencari channel yang benar-benar spesialis di satu kategori produk. Kecenderungannya setiap peritel ingin mengikat konsumen sehingga ahirnya mereka berusaha menjadikan ritelnya sebagai one stop shopping. Selain itu tuntutan konsumen agar ritel menghadirkan sesuatu yang berbeda membuat peritel akhirnya justru menambah item produknya dari berbagai macam kategori. Seperti halnya apotik menjual makanan, toko buah menjual produk rumah tangga. Di luar negeri, hipermarket juga berjualan mobil.

More about10 Cara Bagi Bisnis Retail Untuk Sukses

10 Skenario Bisnis Ambles

Diposting oleh Maz Duikin

Setiap kasus jatuhnya bisnis, selalu memiliki sebab, dan memiliki tanda-tanda. Berikut 10 tanda-tanda bisnis ambles yang mengarah pada jatuhnya sebuah bisnis. Berikut 10 tanda-tanda  bisnis yang  cenderung meluncur ambles jika tidak segera dikendalikan dari awal. Disarikan dari berbagai pengalaman para praktisi entrepreneur  yang telah berpengalaman jatuh bangun mengelola usahanya.

10 Skenario Bisnis Ambles

Pertama, Tidak Sabar.

Pebisnis yang tidak sabar  cenderung tidak telaten mengelola usahanya. Ketidaksabaran juga menyebabkan banyak kecerobohan yang muncul. Ketidak sabaran dan kecerobohan diakui oleh banyak pebisnis merupakan faktor  yang sering menjadi penyebab hancurnya bisnis yang sudah dibina bertahun tahun.

Kedua, Melupakan Kepentingan Usaha, Mengutamakan Kepentingan Pribadi.

Pebisnis yang mulai sukses, seringkali lupa membangun usahanya lebih kuat, lebih berdaya saing. Ia terlena dengan usahanya yang sudah mulai berjalan, padahal sejalan dengan berkembangnya usaha yang didirikannya, banyak kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung kegiatan usaha tersebut. Ia justru meningkatkan dan mengutamakan keperluan pribadi yang justru tidak ada sangkutpautnya dengan kegiatan usaha.

Ketiga, Terjebak Kredit Macet.

Akses kredit yang mudah, baik yang ditawarkan oleh perbankan atau melalui kartu kredit jika tidak dilakukan  secara hati-hati dan terukur menjadi penyebab kejatuhan bisnis seseorang.  Gunakan kredit perbankan seluruhnya untuk kegiatan usaha, dan jangan untuk kegiatan konsumsi.

Kelima, Terlibat Masalah Hukum .

Ketika sudah tekad menjadi pewirausaha, yang paling penting diperhatikan adalah perilaku sosial harus jauh dari masalah hukum, misalnya menipu, membohongi orang lain, mencuri serta berperilaku negative, karena sewaktu-waktu hukum tersebut akan memenjarakan dan berakibat buruk bagi bisnis yang anda bangun, dan reputasi bisnis dapat hancur seketika.

Keenam, Suka membeli barang yang tidak bermanfaat.

Jika sesekali membeli barang yang tidak ada manfaatnya bolehlah diabaikan, tetapi jika suka (berarti dilakukan berkali-kali) maka kebiasaan ini dapat menyebabkan keuangan perusahaan dalam keadaan bahaya. Misalnya, setiap ada pesta selalu membeli baju baru, atau setiap tahun selalu membeli mobil baru.

Ketujuh,  Gampang tergoda promosi.

Menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan perusahaan memang itulah harapannya, tetapi banyak pewirausaha yang baru tumbuh selain memiliki kebiasaan membeli produk yang tidak ada manfaatnya juga gampang tergoda oleh rayuan promosi. Setiap ada pameran selalu selalu menekn kontrak order barang tanpa memperdulikan kondisi keuangan perusahaan.

Kedelapan, Terlalu ambisius

sehingga action bisnisnya tanpa perhitungan sama sekali. Modal nekad doang. Yang penting jalan dulu. Akhirnya ya benar-benar jalan merosot terus ke bawah.

Kesembilan,  Terlalu banyak pakai duit orang lain.

Sehingga berakibat lupa diri, bahwa itu duitnya orang lain yang harus dikembalikan juga...bukan duitnya sendiri. Nah, karena lupa diri ini, maka cara pakai duitnya juga bisa saja sembarangan, tidak menggunakan perhitungan untung rugi bisnis. Asal pakai saja, urusan menyusul belakangan.

Kesepuluh,  Tidak mau dan tidak cepat belajar tentang kondisi dari lingkungan bisnisnya.

Sering mengabaikan "bisikan hati nurani", sehingga kepekaan intuisi bisnisnya tidak terasah.

Nah kalau anda sudah tahu scenario untuk mengambleskan sebuah bisnis tentunya anda tidak akan melakukan hal hal tersebut diatas. Selamat berbisnis dan selamat belajar untuk merancang scenario mengembangkan dan memajukan sebuah bisnis.

More about10 Skenario Bisnis Ambles