Aig Lippo : Investasi miliaran tidak sia sia

Diposting oleh Maz Duikin on Jumat, 11 April 2014

AIG Lippo salah satu contoh kasus implementasi teknologi informasi (TI) yang tepat, terencana, dan berhasil guna. Di perusahaan ini, TI telah dicoba diaplikasi sejak awal didirikan pada 1983 untuk menunjang semua aktivitas bisnis. Namun, baru pada 1994, perusahan patungan Lippo Grup dan AIG asal Amerika Serikat ini serius menggarap fasilitas TI mereka yang tertuang dalam blue print. Di cetak biru inilah, manajemen menjelaskan dan membuat analisis serta perencanaan akan seperti apa TI yang diterapkan. Dari situ ditetapkan pula model perusahaan kelak dengan TI sesuai dengan perencanaan tadi.

Wiriadi Saputra, Associate Director Operation System and Technology Group Head AIG Lippo, mengatakan implementasi TI di AIG Lippo sangat penting dalam menunjang kesuksesan bisnis yang digarap perusahaan. "Pada industri yang besar, implementasi TI dianggap sebagai komponen yang penting," kata Wiriadi. Lebih khusus lagi pada AIG Lippo, komitmen jajaran manajemen untuk implementasi TI dengan berbagai risikonya sangat besar. Mereka memandang TI sebagai salah satu alat untuk bersaing bahkan mengalahkan kompetitor. Jika lebih difokuskan lagi, TI dimanfaatkan perusahaan untuk mengefisienkan dan mengefektifkan serta memberikan kepuasan kepada nasabahnya.

Untuk semua itu, manajemen AIG Lippo tak sayang menanamkan uang dalam jumlah yang sangat besar. Sedikit-dikitnya Rp 10 miliar digelontorkan untuk kebutuhan TI. Peter Ong, Presiden i2BC (Indonesian infocosm Business Community), percaya atas besaran angka investasi tadi.

Ia menyodorkan hasil penelitian Celent, perusahaan jasa konsultasi dan riset TI di AS, bahwa AIG -- perusahaan induk patungan AIG Lippo -- memang menginvestasi uangnya lebih besar untuk TI dibanding perusahaan sejenis di AS. Pada 2002, AIG AS membelanjakan paling sedikit US$ 446 juta untuk kebutuhan TI. Angka ini lebih besar dari dana yang dibenamkan State Farm (US$ 413 juta), MetLife (US$ 360 juta), Allstate (US$ 336 juta), dan Zurich (US$ 331 juta). Sepanjang 2002, pertumbuhan investasi TI pada perusahaan asuransi besar di AS mencapai 7% dari tahun sebelumnya. Total investasi industri asuransi AS terhadap TI tahun 2002 diperkirakan US$ 18 miliar.

"Menurut perkiraan Celent Research, biaya TI di rata-rata perusahaan asuransi setara dengan 12% dari non-commission operating expenses," jelas Peter Ong. Ia menambahkan, distribusi anggaran komponen TI terdiri atas biaya staf internal (44%), biaya konsultan (11%), lisensi piranti lunak dan support (20%), perangkat keras (15%), connectivity dan bandwidth (8%), dan lain-lain (2%).

Manajemen AIG Lippo tampaknya sadar betul pentingnya kebutuhan atas TI sehingga penyusunan investasi TI dimasukkan dalam perencanaan budget tahunan. Semuanya memang tidak sia-sia sebab perusahaan menerima benefit yang tak kalah besarnya. Penghematan biaya operasional, misalnya, mencapai 40% sejak implementasi TI.

Kata Wiriadi, pihaknya punya satu syarat dalam pemilihan perangkat hardware dan software: simpel dan seragam. Untuk PC, misalnya, semuanya menggunakan Intel Base dan Critical System dengan IBM High 400, sedangkan software semisal database atau internet menggunakan Microsoft. Pemakaian kedua brand ini bukan berarti yang terbaik, tapi menghindarkan terlalu banyak platform.

Dalam perkembangannya, implementasi TI di AIG Lippo kini memasuki tahap perencanaan ketiga. Di perusahaan ini, perencanaan arah dan kebijakan TI dirumuskan setiap lima tahun. Pada tahap pertama, arah kebijakan TI ditekankan pada pengembangan infrastruktur dan arsitektur peranti lunak. Termasuk di dalamnya penerapan komputerisasi yang terkoneksi ke local area network (LAN). Juga mendesain software sesederhana dan seluwes mungkin. Orientasi manajemen adalah membuat sistem TI mereka sefleksibel mungkin, sehingga mampu mengikuti perkembangan bisnis secara keseluruhan.

Tahap kedua (1999): implementasi mulai mengacu pada internetisasi plus pembenahan software. Tujuannya: agar bisa mengikuti perkembangan bisnis secara cepat. Maklum, saat itu industri asuransi sedang bertumbuh dengan luar biasa, khususnya dalam hal inovasi produk. Ekspansi juga mulai dirancang dengan membuka beberapa kantor cabang yang dihubungkan secara online. Saat ini, tujuh kantor cabang AIG Lippo telah tersambung.

Kini, hampir semua aspek dan lini bisnis AIG Lippo telah tersentuh TI. Komunikasi internal dan eksternal, contohnya, semakin mudah dan cepat dengan sistem email. Penyimpanan dokumen atau filling data menggunakan sistem imaging, penerapan sistem OLAP (online analitical processing) -- semacam data warehousing -- untuk fungsi pengumpulan data agar bisa masuk ke database. Ini termasuk membuat e-media, semacam majalah dinding, yang menjadi pusat informasi bagi semua karyawan. Untuk semua antisipasi perkembangan teknologi itu, AIG Lippo meraih banyak penhargaan. Seperti, HP Award untuk penerapan e-media dan Warta Ekonomi Award untuk pengembangan intranet.

Untuk tahap ketiga yang akan dimulai pada 2004, sejumlah rencana dan arah kebijakan investasi TI telah dirancang. Rencananya, dalam lima tahun ke depan, tenaga penjual di lapangan akan dibekali PDA (Personal Digital Assitance), sehingga mereka bisa menggenerate perencanaan finansial. Ini juga termasuk rencana pemanfaatan mobile phone, smart card, dan teknologi wireless. Ada pula keinginan manajemen untuk menerapkan B2B.

Namun, manajemen AIG Lippo mengakui bahwa banyak kendala yang menghadang dalam implementasi TI. Misalnya, biaya yang semakin besar oleh pergerakan nilai tukar rupiah dengan dolar. Juga, kesulitan mendapatkan staf human resources (HR) yang capable. Cepatnya perubahan teknologi itu sendiri juga menjadi penghambat implementasi TI di sini.

Manajemen mencoba menyiasatinya dengan cara memanfaatkan dan menggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhan. Artinya, AIG hanya akan mengeluarkan duit untuk teknologi yang diyakini mendukung bisnis mereka. Salah satu caranya, melakukan feasibility studi sebelum memutuskan penggunaan sistem atau teknologi. Pemenuhan SDM sesuai dengan kebutuhan disiasati dengan cara training dan fasilitas bagi mereka yang telah ada agar tidak hengkang.

Meskipun mengakui antisipasi cepat manajemen AIG Lippo terhadap perkembangan TI, namun Peter Ong menyarankan agar perusahaan ini memiliki enterprise architecture yang bisa scalable ke arah web services.

"Ada beberapa cara untuk melihat level spending TI yang optimal untuk perusahaan asuransi. Misalnya, mengukur dari investasi TI per pegawai," ujar Peter. Di AS, katanya, bisa mencapai US$ 5,000--US$ 10,000, tergantung besar-tidaknya perusahaan khususnya dalam hal revenue. Memang, belum ada riset apakah nasabah AIG Lippo benar-benar terpuaskan oleh pelayanan yang serba TI ini seperti yang mereka paparkan dengan bangga di tulisan ini.



Sumber: Swa

More aboutAig Lippo : Investasi miliaran tidak sia sia

Anugrah argon medika , pilih oracle aplication 11i

Diposting oleh Maz Duikin

Tren implementasi TI merambah juga ke PT Anugerah Argon Medika (AAM), raksasa distribusi nasional yang punya spesialisasi di produk farmasi etikal. Sejak tiga tahun terakhir, AAM serius berinvestasi di bidang TI, antara lain, mengimplementasi sistem ERP (enterprise resource planning) dalam proses bisnis.

Sebenarnya, pemanfaatan TI di AAM dimulai pada 1993, tapi kala itu masih sebatas otomasi. Program yang digunakan juga sangat sederhana -- dBase dan Clipper -- sementara antarbagian dalam organisasi belum terintegrasi satu sama lain.

Seiring reposisi perusahaan -- tahun 1996 AAM mengubah visi dari perusahaan trading menjadi perusahaan distribusi -- parameter yang digunakan dalam proses bisnis pun berubah, terutama berkaitan dengan persediaan barang (stok) dan pelaporan ke prinsipal. Hasilnya, bisnis tumbuh 30%-40% di atas rata-rata industri. "Dari situ, kami mulai merasa penting mengimplementasi sistem TI yang lebih memadai untuk menunjang proses bisnis," ujar Direktur Pengelola AAM, Erwin Tenggono.

Maka, tahun 1999 muncul gagasan investasi di TI dengan mengimplementasi ERP. Namun, sebelum implementasi, terlebih dulu dilakukan kajian visi perusahaan dan visi TI perusahaan. Proses kajian melibatkan seluruh jajaran direksi dan manajer AAM. "Kami merumuskan apa yang ingin dicapai lima tahun ke depan dengan investasi TI," ungkap Erwin. Saat itu manajemen AAM meyakini, TI bakal berperan penting.

Banyak persoalan terkait dengan sistem informasi, data, standardisasi, prosedur, serta integrasi antara kantor pusat dan sales point yang bakal terbantu dengan keberadaan TI. Apalagi, bisnis distribusi berada di posisi intermedier, "Prinsipal dan pelanggan sering memerlukan informasi yang cepat, akurat dan user friendly. Itu hanya bisa dilakukan dengan dukungan TI," Erwin menegaskan. Implementasi TI yang baik diharapkan memberi nilai tambah signifikan dalam hal sistem dan informasi bagi pelanggan, prinsipal dan perusahaan.

Setelah sepakat atas visi yang ingin dicapai, langkah berikutnya mencari vendor. Menyadari tidak memiliki kompetensi di bidang TI, AAM menggunakan jasa konsultan asal Australia yang diperlukan untuk membantu proses penentuan vendor. "Kami hanya membeli tool-nya (manual berupa kuesioner, metode dan cara menentukan vendor)," ujarnya. V. Hery Sutanto, Kepala Departmen TI AAM, menyebutkan, saat itu banyak vendor yang menawarkan diri. Berdasarkan hasil assessment dan pertimbangan biaya, akhirnya diputuskan memilih Oracle Application 11i. "Tingkat kesesuaiannya dengan yang kami inginkan paling mendekati," kata Hery.

AAM langsung mencoba menggunakan model big bang dengan aplikasi-aplikasi yang terintegrasi secara penuh. Artinya, TI diterapkan di semua aktivitas dan bagian perusahaan, baik di front office maupun back office. "Memang ada plus-minusnya, tapi sejauh ini kami beranggapan, pendekatan big bang adalah keputusan yang benar dan terbaik bagi AAM," ungkap Hery. Pemilihan big bang karena manajemen tak ingin tanggung-tanggung, dan berkomitmen besar mengimplementasi ERP yang terbaik. Selain itu, dalam kajian AAM, tingkat resistensi terhadap perubahan tergolong rendah, sehingga tidak mengkhawatirkan bila semua modul langsung diimplementasi bersamaan.

Secara lebih detail, implementasi TI di AAM dibagi tiga fase. Pertama, membangun fondasi di tahun 2000, yaitu dengan implementasi ERP dan supply chain. "Ini merupakan fase perubahan, standardisasi dan konsolidasi," papar Erwin. Kedua, fase utilisasi. Erwin menyebutkan bahwa dengan dasar ERP, dibangun aplikasi strategis penunjang bisnis perusahaan, seperti business intelligence, performance management, security system, B2B dan beberapa aplikasi lain. Fase kedua ini secara paralel berjalan sejak tahun 2002.

Ketiga, fase integrasi dengan pelanggan dan prinsipal. Yakni, menggunakan aplikasi customer relationship management yang akan dibangun dengan sistem terintegrasi dan advanced. Erwin menyebutkan, nantinya banyak inisiatif dilakukan di fase ini. Salah satunya, penerapan mobile sales application. "Dalam waktu dekat, salesman AAM dapat mengentri data melalui PDA," ungkapnya.

Sejauh ini, banyak manfaat didapat AAM dengan implementasi TI. Hery menyebutkan, setidaknya manfaat dirasakah oleh tiga lapisan, yaitu lapis operasional, lapis manajer dan lapis top management. Di tingkat operasional, manfaat yang sangat terasa adalah dalam pelaporan. "Dengan ERP, laporan dapat dibuat melalui e-mail dengan sistem alert, sehingga perkembangan penjualan perusahaan dapat diterpantau secara real time," Hery menguraikan. Selain itu, dengan ERP, tak ada lagi pekerjaan pengulangan, dan pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat.

Bila dikaji, sejauh ini ada sejumlah departemen yang mendapat manfaat langsung dari investasi TI. Bagian keuangan, misalnya, kini proses pencatatan keuangan perusahaan jauh lebih mudah dan cepat, karena otomasi yang terintegrasi telah dilakukan untuk manajemen piutang, utang, general ledger dan manajemen arus kas. Ini dimungkinkan, karena AAM telah menggunakan software Oracle 11i untuk mengelola account receivable, account payable, general ledger, dan manajemen arus kas.

Bagian pemasaran juga beroleh berkah dari software tersebut, yang memberikan fasilitas manajemen order, advanced pricing dan e-store. Dengan fasilitas ini memudahkan manajemen penjualan dan penentuan harga (diskon), serta memungkinkan order via Internet. Yang paling signifikan, manfaat di bidang logistik. Sebab, inventori lebih efisien dan terhindar dari penumpukan. Kemudian, pembelian dan persediaan lebih tanggap terhadap klien, perencanaan rantai pasokan lebih lancar, karena segalanya termonitor secara online dan real time. Bahkan kini, dimungkinkan melakukan forecasting terhadap permintaan dan pasokan ke depan.

Kendati sudah banyak menuai manfaat, sejauh ini AAM belum sampai pada tahap menghitung return on investment dari semua investasi TI-nya. "Sebagian dari investasi TI ini intangible asset," tukas Erwin. Menurutnya, sebagian investasi tidak bisa diukur paralel dengan pertumbuhan revenue perusahaan.

Bagaimanapun, AAM merasakan, salah satu yang membuat bisnisnya terus tumbuh di atas rata-rata industri berkat dukungan TI. Selain itu, kini kepemilikan sistem TI yang memadai juga menjadi marketing tool yang amat menentukan ketika menarik klien baru. "Dengan kapabilitas TI, telah membuat prinsipal baru tertarik pada kami," ungkap Erwin, yang baru saja mendapat prisipal baru berskala besar, PT Tanabe Abadi.

Investasi AAM di TI tampaknya serius. Hanya saja, pilihan pada sistem big bang patut dicermati. Sistem ini membuat arah investasi menjadi lebih terintegrasi dalam satu platform. Namun, selain membutuhkan investasi awal yang besar, dengan pola tersebut sering tidak memberikan hasil efektif. Mengapa? Platform yang didesain sejak awal sering dalam perkembangannya membutuhkan penyesuaian. Dengan demikian, big bang rawan pemborosan.

Yang dikhawatirkan, bila kebutuhan perusahaan ke depan belum tentu lebih besar ketimbang proyek yang telah didesain. Tentu, utilisasi menjadi rendah, karena ada kapasitas yang tidak terpakai. Seperti AAM sekarang, ia berani mengimplementasi fitur tertentu yang jarang diimplementasi perusahaan lain -- advanced planning scheduling, misalnya. AAM adalah perusahaan pertama di Asia Pasifik yang mengimplementasi software jenis ini untuk kepentingan manajemen demand. Nah, apakah ke depan tuntutannya masih sama?

Dilihat dari besaran anggaran yang digelontorkan untuk belanja TI, sebenarnya investasi AAM tak terlalu royal -- 1% total revenue. AAM bisa menekan anggaran, karena lebih banyak melakukannya sendiri melalui divisi TI. "Konsultan hanya digunakan untuk proyek besar, yang kompetensi teknisnya tidak kami miliki," kata Erwin. Kini, divisi TI AAM meliputi 30 karyawan, dikepalai seorang kepala divisi setingkat manajer.

Pengamat dan praktisi TI, Peter Ong, menilai, langkah yang dilakukan AAM dengan berinvestasi di bidang TI tepat. "Investasi TI akan memberi hasil yang signifikan, jika dilakukan pada hal-hal yang berhubungan dengan biaya transaksi dan biaya interaksi. Salah satunya, di industri distribusi," Peter menjelaskan. Apalagi, bagi perusahaan distribusi yang paling utama dikelola adalah data. "Salah sedikit saja mengelola data, kerugiannya sangat besar," ujarnya. Karena itu, memang dibutuhkan investasi TI, khususnya berhubungan dengan manajemen data atau proses di back office.

Selain itu, prinsipal dari AAM kebanyakan perusahaan multinasional, sehingga investasi TI berperan cukup penting dalam hubungan dengan prinsipal. "Prinsipal asing biasanya punya demand terhadap informasi jauh lebih tinggi dari prinsipal lokal," ujar Peter, yang pernah menjadi Presdir Interdelta (distributor farmasi).

Peter memberi catatan, yang paling penting bagi AAM, harus membenahi back office sampai level tertentu, baru kemudian dilanjutkan membenahi front office. "Tanpa pembenahan di front office, hasilnya tidak akan signifikan, back office itu tidak bisa menghasilkan uang," demikian Peter.

Saat ini, nampaknya pembenahan di back office dan front office dilakukan secara bersamaan. Menurut Peter, jika pembenahan back office dan front office dilakukan secara bersamaan, pada waktu tertentu nantinya terjadi penurunan produktivitas, karena semua orang di organisasi itu tersedot energinya memikirkan soal TI. "Seharusnya, jangan terlalu banyak main di back office, cukup sampai level tertentu. Mereka harus lebih memberatkan perhatian di front office," mantan pentolan Citibank dan Kalbe Farma itu menyarankan.

Sumber: Swa
More aboutAnugrah argon medika , pilih oracle aplication 11i

Bank syariah lebih kompetitif dengan solusi oracle

Diposting oleh Maz Duikin

Pertumbuhan pasar perbankan syariah di Indonesia mencapai 40 – 50% per tahun – tertinggi di Asia Tenggara. Profit yang diperoleh 11 bank umum syariah yang saat ini terdaftar di Bank Indonesia juga masih relatif besar.

Namun, seiring ketatnya persaingan, margin antara biaya operasional dan pendapatan bisa kian menipis. Apalagi, diperkirakan bakal semakin banyak bank konvensional yang membuka unit syariah.

Untuk itu, diperlukan cara pengelolaan baru dari sisi TI yang mampu meningkatkan kepuasan nasabah, tapi di sisi lain dapat mengefisienkan ongkos.

Oracle Flexcube Islamic Banking adalah salah satu alternatifnya. Inilah aplikasi yang didesain khusus oleh Oracle guna memenuhi keperluan inti perbankan syariah sekaligus menyediakan solusi end-to-end. Mulai urusan back-office sampai customer relationship management (CRM) tercakup di sini. Jenis transaksi yang didukung antara lain Ijarah, Mudarabah, Murabahah, Musyarakah, Sukuk, dan Tawarruq.

“Aplikasi ini bersifat menyeluruh, terbuka, terintegrasi, dan yang terbaik di kelasnya,” klaim Jamil bin Hassan (Principal Consultant, Islamic Banking, Oracle Financial Servies Software).

Di samping kelengkapan fungsi-fungsinya, Jamil pun menjamin Oracle Flexcube Islamic Banking telah memenuhi segala hukum perbankan islami. Terlebih menurutnya, peraturan di bank syariah di Indonesia paling ketat.

Untuk bank syariah baru, Oracle Flexcube bisa diimplementasikan dalam waktu sekitar enam bulan. Jika migrasi dari sistem lama, durasinya lebih lama, antara 1 – 1,5 tahun. Untuk urusan harga, bandrol yang dipatok Oracle bagi pasar Indonesia, menurut Jamil, lebih murah dibandingkan negara-negara lain.


Jumat, 29 April 2011 08:48 | Ditulis oleh Erry FP. |
sumber : http://www.infokomputer.com/berita/solusi-oracle-untuk-bank-syariah-kompetitif
More aboutBank syariah lebih kompetitif dengan solusi oracle

Compiere , ERP berbasis open source

Diposting oleh Maz Duikin

Compiere adalah sebuah software ERP (singkatan dari Enterprise Resource Planning), dan merupakan sebuah software ERP berbasis open source yang paling popular saat ini. Sudah lebih dari 800.000 kali (s/d th2006) di download  dari website http://www.sourceforge.net , Compiere yang di bangun dengan menggunakan Java J2EE dapat di jalankan di berbagai platform seperti Windows, Linux, Unix, dll.

ii. Mengapa Compiere Berbeda?

Ada beberapa hal yang membuat Compiere berbeda dengan sistem ERP yang lain, dimana Compiere memiliki beberapa kelebihan sehingga Compiere menjadi salah satu pilihan terbaik dalam memilih sistem ERP. Kelebihan  kelebihan tersebut diantaranya adalah :

Implementasi Cepat, Dengan asumsi tanpa memerlukan proses pengambilan keputusan yang panjang, yang umumnya terjadi karena masalah perhitungan biaya dan investasi (serta kerugiannya apabila sistem ternyata gagal). Dengan Compiere resiko kerugian sangat kecil, misalnya apabila anda menghentikan proyek implementasi karena suatu alasan. Disamping itu Compiere tidak mengenal kata gagal, karena apabila sistem yang ada pada Compiere tidak dapat memenuhi kebutuhan perusahaan anda secara maksimal, anda masih dapat mengembangkannya sendiri dari source code yang tersedia.

Benar benar Terintegras, artinya semua data (ERP, CRM dan Akunting) di picu dari transaksi yang sama. Tidak diperlukan migrasi, penggabungan atau trasformasi data. User yang memasukkan data tidak perlu takut tentang informasi yang perlu di masukkan untuk CRM, karena informasi informasi tersebut secara otomatisa akan terintegrasi.

Aman dari Kegagalan, orang umumnya akan berusaha aman dari kesalahan. Akan tetapi sebenarnya tidak ada lingkungan yang benar benar aman, mengingat banyaknya variable keamanan. Sehingga anda pasti yakin akan adanya bug dan masalah. Sehingga, idenya adalah membangun system dimana anda dapat berbuat salah secara aman, dimana anda dapat memperbaiki kesalahan, mengulangi dari awal dan anda dapat mengatasi situasi tersebut.

Rich and Reach – Rich (kaya) mengacu pada system Clien/Server interface yang memiliki semua fitur yang diperlukan. Reach (terjangkau) mengacu kepada web interface dimana dapat diakses tanpa harus memerlukan program khusus dari sisi klien. Global Market, cukup mudah membangun multi fungsi di Compiere dimana mengijinkan anda untuk berbuat di pasar global dengan bahasa yang berbeda, mata uang, dan metode akuntansi.

Smart User Interface, hampir semua tampilan windows dikembangkan pada aturan dasar, berdasarkan andas. Hal ini mengijinkan untuk akses yang sangat personal dan memberikan user apa yang diperlukan. Dalam hal tersebut, Compiere benar benar memperhitungkan fakta bahwa beda orang akan memiliki kebutuhan yang berbeda pula. Penggerak Perbendaharaan data memungkinkan setup berbasis per-user. Semua windows dapat di kustomisasi dan dikurangi terhadap field2 dimana user sesungguhnya memerlukannya dimana hal ini memberikan flexibiltas lebih baik dari aplikasi lain.

Target Pasar Compiere

Compiere dirancang untuk industri yang bergerak dibidang jasa, distribusi dan retail. Terdapat fungsi dasar dari Managemen material serta termasuk juga Manufacturing Planning meskipun dalam skala terbatas. Tidak ada fungsi manufaktur seperti Shopfloor kontrol dan Full MRP. Compiere adalah untuk perusahaan kecil dan menengah (SME), seperti halnya perusahaan tunggal, untuk rangkaian distribusi, outlet dari sebuah manufaktur, franchises dll.

Agung B Santosa
More aboutCompiere , ERP berbasis open source

Investasi triliunan itu masih bisa diselamatkan

Diposting oleh Maz Duikin

Oke, perusahaan Anda telanjur membenamkan dana sampai ratusan miliar rupiah untuk pengembangan sistem teknologi informasi (TI), yang menurut janji akan membuat perusahaan Anda lebih produktif, efisien, memuaskan pelanggan, bahkan menciptakan bisnis baru dari data perilaku pelanggan Anda. Ternyata, janji tinggal janji. Anda termasuk kelompok yang dikecewakan? Baca halaman per halaman berikut. Masih ada jalan keluar ...

Kemal E. Gani.

Gara-gara proyek TI, eksekutif puncak Polaris Software Lab. Ltd., harus mendekam di bui. Perusahaan TI asal India yang antara lain pernah menggarap sistem komputer Citibank N.A. ini, dikontrak Bank Artha Graha untuk mengerjakan aplikasi sistem perbankan ritel. Direksi Artha Graha selain tak puas atas kinerja aplikasi garapan Polaris, juga menganggap pengerjaannya lamban, bahkan kemudian menganggap aplikasi itu tak layak pakai. Buntutnya, Direksi Artha Graha meminta proyek senilai Rp 11,5 miliar itu dibatalkan, dan semua uang yang sudah dibayar dikembalikan. Karena tak ada kompromi, dua eksekutif puncak Polaris pun dipenjara.

Berita di atas adalah contoh ekstrem tindakan klien yang merasa tak puas atas upaya penerapan TI di perusahaannya. Selain Artha Graha, banyak perusahaan lain di sini yang juga telanjur membenamkan dana sampai ratusan miliar rupiah untuk penerapan sistem TI, dan juga kurang berhasil.

Bisa jadi, serentetan pertanyaan seperti berikut sudah dilontarkan para pemilik dan bos perusahaan ke para penanggung jawab TI perusahaan, vendor atau konsultan integrator sistem: "Apa hasil investasi TI yang sudah dilakukan? Katanya bisa meningkatkan produktivitas dan menekan biaya? Mana buktinya? Lalu, mana janji bisa tersedia laporan konsolidasi dan semua departemen bisa bekerja sama, serta berbagi informasi secara real time dan terintegrasi? Selain itu, bagaimana dengan cerita pelanggan yang bisa dipuaskan secara personal itu? Kenapa malah banyak pelanggan yang menggerutu dan pindah ke kompetitor?"

Ya, where is the payback? Itulah mungkin inti banyak pertanyaan yang kini diajukan para pemilik dan top manajemen perusahaan atas investasi TI yang sudah mereka benamkan. Memang, mereka tak sampai harus senekat -- dan kebetulan punya power -- seperti eksekutif Artha Graha yang melaporkan konsultan atau vendor mereka ke polisi untuk dipenjarakan. Namun, banyak dari mereka kini harus menanggung kerugian US$ jutaan, atau aplikasinya tak bisa dimanfaatkan optimal. Banyak contohnya. Misalnya, yang terjadi di industri telepon seluler. Hampir semua perusahaan ponsel di sini, sudah beberapa kali mengganti billing system-nya dengan investasi US$ jutaan. Salah satunya, pada tahun awal operasionalnya pernah membakar US$ 7-8 juta sia-sia untuk rencana implementasi billing system.

Lalu, yang terjadi di salah satu grup perusahaan makanan dan minuman terbesar di sini. Untuk peningkatan kualitas infrastruktur perusahaan, sistem online, dan otomasi seluruh jaringan bisnisnya, sehingga semua jaringan depo dan cabangnya di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri bisa terintegrasi, produsen makanan instan dan snack itu mengembangkan dan mengimplementasi sistem enterprise resources planning berbasis SAP dengan bujet sekitar US$ 10 juta (Rp 90 miliar), sementara software sebelumnya ditinggalkan karena sistemnya tak sesuai lagi dengan kebutuhan. Kabarnya, implementasi SAP ini termasuk yang terbesar di Asia. Setelah proses implementasi berjalan dua tahun lebih, direksi perusahaan ini juga mengeluh, integrasi sistem yang diharapkannya tak kunjung terwujud.

Bagaimanapun, dana sudah dikucurkan. Waktu dan tenaga sudah pula disisihkan. Jika ditotal, nilai investasi yang sudah ditanamkan perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk TI selama beberapa tahun terakhir mencapai Rp triliunan. BRI, misalnya, untuk jangka tiga tahun sejak 2001, mengalokasikan US$ 100 juta. BCA, tahun lalu saja menganggarkan US$ 40 juta. Yang juga menganggarkan dana besar untuk TI, antara lain: Indofood, Garuda Indonesia, Astra International, AstraWorld, United Tractors Indonesia, Grup HM Sampoerna, Bank Mandiri, Telkom, Indosat, dan semua operator seluler GSM.

Menurut Data IDC Asia Pasifik, Investasi TI perusahaan-perusahaan di Indonesia pada 2001 sebesar US$ 858 juta, tahun lalu diperkirakan US$ 896,6 juta, dan tahun 2003 menjadi US$ 1,08 miliar. Dari angka tersebut, kontribusi belanja software diperkirakan mencapai 40%.

Berdasarkan data di atas, nilai yang sudah dan hendak ditanamkan di bidang TI memang cukup signifikan. Alokasi dana segede itu yang tujuannya mengintegrasikan semua proses bisnis, efisiensi, meningkatkan produktivitas, mengelola SDM, memuaskan dan mengoptimalkan pelanggan itu, memang sudah seharusnya dilakukan. Sebab, jika visi dan implementasi benar, hasilnya sungguh luar biasa. Di Amerika Serrikat, misalnya, sejak pertengahan 1990-an banyak top eksekutifnya berani mengambil risiko menerapkan teknologi baru dan cara baru berbisnis untuk memacu produktivitas, pemangkasan biaya, dan memuaskan pelanggan. Hasilnya, perusahaan nonkeuangan di sana rata-rata berhasil mendongkrak 25% produktivitas mereka.

Namun masalahnya, banyak juga dari investasi itu yang tak jelas juntrungannya, seperti dipaparkan di awal tulisan ini. Dan itu tak hanya terjadi di Indonesia. Peter Ong, Presiden i2bc, mengatakan, banyak proyek implementasi TI seperti customer relationship management (CRM) terbukti jauh dari sukses. Peter juga mengutip hasil studi Gartner yang menyebutkan bahwa 2/3 proyek CRM besar gagal mencapai sasaran. Data yang diungkapkan Peter juga sejalan dengan hasil studi The Standish Group, yang menyebutkan hanya 28% proyek TI besar yang mampu mencapai harapan.

Kenapa banyak proyek TI gagal, idle, atau pengunaannya di bawah kapasitas? Heru Prasetyo, mantan Country Managing Director Accenture mengatakan, sebenarnya masalahnya lebih ke arah low utilization ketimbang idle. Masalah itu bisa terjadi -- kalau dilihat dari sisi argumen Business Integration, yang menyebutkan bahwa TI adalah bagian dari program besar menata strategi, proses, organisasi/SDM dan sistem yang perlu dilakukan secara terpadu untuk dapat memperoleh manfaat -- karena proyek jadi sangat besar, menyangkut hal non-TI yang cakupannya luas dan kompleks. Kata Heru, argumen ini sulit diterima perusahaan, karena cara berpikir mereka yang umumnya berangkat dari organisasi manajemen yang fungsional. Kalau toh rekomendasi itu diterima dan CEO mencoba menerapkan, pelaksanaannya sangat sulit. Sebab, masalahnya justru timbul dalam kultur manajemen yang harus berubah.

Ada juga dari pendekatan piece meal. Dalam hal ini, mungkin sistem TI-nya terpasang, tetapi perubahan tidak terjadi, karena prosesnya hanya berubah sedikit, organisasinya tidak menyesuaikan. "Ini akhirnya malah menganibal TI-nya, atau strateginya tidak terdukung, lalu meng-overrule sistemnya," tutur Heru seraya mengingatkan bahwa proyek TI-nya sendiri bisa dinyatakan sukses.

Bagi dunia bisnis kita, masalah ini memang bukan isu baru. Namun, kami perlu mengangkat isu ini paling tidak karena dua hal. Pertama: waktu, tenaga, dan nilai investasi yang sudah ditanamkan perusahan-perusahaan di Indonesia untuk membangun sistem TI sangat besar, dan kami tak ingin semua upaya itu tak ada hasilnya, idle, atau low utilization.

Kedua, tak bisa dipungkiri, penerapan TI yang tepat di dunia bisnis akan membawa manfaat yang signifikan. Karena itu, jelas kami juga ingin, tembakan pertanyaan where is the payback tidak menyurutkan nyali para top manajemen di Indonesia kreatif mencari jalan keluar dari investasi yang telanjur dibenamkan, dan tetap berani mengambil risiko atas teknologi baru dan cara baru berbisnis untuk memacu produktivitas, pemangkasan biaya, memuaskan pelanggan -- serta mencari hal baru untuk terus-menerus meningkatkan daya saing dan pengembangan usaha.

Ketiga, kami juga tak ingin, tren merosotnya nilai investasi di TI -- di AS, misalnya, penjualan PC pada 2002 jatuh, ini tidak pernah terjadi sebelumnya --- dan data ketidakberhasilan penerapan sistem TI dijadikan sebagai data statistik yang memicu perusahaan agar ekstra hati-hati untuk tidak membuat trauma dalam berinvestasi di TI.

Dalam Sajian Utama SWA ini, intinya kami ingin mengajak Anda untuk menata ulang investasi TI. Kami yakin, Anda bisa. Di AS, misalnya, Staples Inc. (dikupas mendalam di bagian lain Sajuta ini), telanjur membakar US$ 125 juta untuk membangun sistem e-business. Namun, dalam tempo tak sampai 6 bulan, di tengah ambruknya berbagai perusahaan dotcom, segalanya pun berubah. Bos Staples segera banting setir, tak mau kehilangan momentum. Mereka segera mencanangkan arah baru investasi yang sudah dilakukan, Yakni, memperoleh hasil optimal dari investasi yang ditanam, dengan mengubah penekanan strategi dari menggenjot produktivitas menjadi menekan biaya. Antara lain, mengalihkan penggunaan teknologi untuk mengembangkan sistem online help, yang memungkinkan manajer dan karyawan lain di jaringan toko memberi jawaban yang memuaskan konsumen. Hasilnya? Dari target 17% return dalam empat tahun, online help mampu menghasilkan return 60%, dan dapat menghemat US$ 10 juta.

Jadi, para top manajemen, jangan mencak-mencak atau panik dulu. Masih banyak jalan keluar yang bisa Anda tempuh.

Sumber: Swa
More aboutInvestasi triliunan itu masih bisa diselamatkan

Jaringan hotel hyatt : Harus lebih mengenali pelanggan

Diposting oleh Maz Duikin

Buat hotel sekelas Grand Hyatt, tak bisa dipungkiri peran teknologi informasi (TI) sangatlah penting guna menunjang proses bisnis. Jaringan hotel bintang lima internasional yang berpusat di Chicago AS ini tersebar di berbagai negara, sehingga sistem TI pun seragam, menggunakan standar yang sama. Penyeragaman sistem TI ini juga berlaku untuk jaringan hotel Hyatt di Indonesia, seperti Grand Hyatt Jakarta, Hyatt Regency Bandung, Hyatt Regency Yogyakarta, Hyatt Regency Surabaya, Bali Hyatt, Grand Hyatt Bali, dan Hotel Aryaduta Jakarta (yang juga dikelola Hyatt Internasional).

Menurut Budi Mulya, Area Information Systems Manager Hyatt International Hotels and Resort Indonesia, sistem TI yang telah mulai digagas di jaringan hotel Hyatt Indonesia pada 1988, diakui telah memberikan kontribusi cukup signifikan dalam menunjang proses bisnis sehari-hari.

Menurut eksekutif yang membawahkan pengelolaan TI di 6 Hotel Hyatt plus Hotel Aryaduta ini, tujuan pemanfaatan TI adalah meningkatan pelayanan terhadap pelanggan serta menyajikan informasi yang lebih akurat, efektif, dan relevan. "Dengan TI, proses kerja menjadi lebih lancar, biaya operasional bisa ditekan, pelayanan kepada pelanggan meningkat, dan tentu saja ini akan meningkatkan keuntungan," ungkap lulusan Jurusan Teknik Sipil Universitas Trisakti dan Sarjana Komputer AMIK Bunda Mulia ini.

Dijelaskan Budi, pada prinsipnya, sistim TI yang digunakan Hyatt terbagi dua: bersifat global dan lokal. Sistem TI global merupakan sistem TI standar yang digunakan oleh jaringan hotel Hyatt di seluruh dunia. Sistem TI global ini adalah hotel system dengan aplikasi property management system (PMS) Maxial/HYAdvantage yang terintegrasi, mulai dari aplikasi front office, purchasing, point of sales, sales and marketing, food and beverage hingga aplikasi accounting.

Sementara itu, untuk sistem TI lokal, setiap hotel diberi kebebasan menyediakan sistemnya sesuai kebutuhan. Contohnya, pemanfaatan sistem human resources (HR) yang berbeda-beda, baik dari segi sistem aplikasi maupun vendor-nya. Hal semacam ini juga diberlakukan di jaringan hotel Hyatt di Indonesia.

Budi mengakui, investasi di bidang TI jelas membutuhkan perhitungan yang cermat. Pasalnya, dana yang bakal diserap tak bisa dibilang sedikit. Untuk itu, saat merancang program investasi bidang TI, manajemen Hyatt menggunakan dasar perhitungan persentase dari total revenue hotel yang akan dicapai. "Umumnya, sekitar 3% dari total revenue," jelas Budi. Angka ini pun masih dapat berubah, tergantung besaran proyeknya. Biasanya, kata Budi, nilai satu proyek TI untuk satu hotel Hyatt di sini bervariasi dari US$ 20.000 hingga US$ 300.000. Untuk proyek yang membutuhkan kucuran dana relatif besar, panduannya selalu datang dari Chicago. Panduan ini, menurut Budi, lantas diterjemahkan ke dalam business plan -- termasuk perencanaan biaya -- oleh manajemen Hyatt di seluruh dunia.

Menurut Budi, tahap proses implementasi TI di Hyatt selalu dimulai dari perencanaan, menyangkut apa saja yang diperlukan untuk proses implementasi TI. Dilanjutkan dengan proses perancangan yang meliputi desain infrastruktur/topology, jenis layanan komunikasi, dan jaringan komunikasi data. Proses implementasi TI di Hyatt juga mencakup pelatihan user (karyawan), proses maintenance (pengelolaan), serta tindakan perbaikan jika diperlukan.

Pemilihan dan penentuan perangkat hardware dan software yang diperlukan, disesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan. Perangkat hardware yang tergolong utama (major) biasanya seragam. Semisal, server untuk aplikasi hotel system menggunakan IBM RISC/6000, dan untuk mail system menggunakan IBM Netfinity.

Penyeragaman juga berlaku untuk software aplikasi yang digunakan. Contohnya, software untuk mail system menggunakan Lotus Notes/Domino, sedangkan untuk beberapa hardware yang tidak termasuk kategori major (semisal workstation), manajemen Hyatt Internasional mempersilakan manajemen lokal menggunakan perangkat yang harganya disesuaikan dengan anggaran hotel.

Bagaimana peran konsultan? Kata Budi, konsultan TI resmi hanya ada di Chicago, sedangkan di tingkat lokal seperti Indonesia, manajemen hotel tak menyewa konsultan. "Kami hanya menyewa vendor yang akan mengerjakan proyek yang sedang dikerjakan, dan sekaligus bertindak sebagai konsultan," katanya.

Dalam praktik, diakui Budi, proses implementasi TI tak selamanya mulus. Persoalan utama yang dihadapi adalah bagaimana membuat ongkos yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang bakal diperoleh, sekaligus menjadikannya keuntungan. "Tujuan implementasi TI adalah meningkatkan kinerja perusahaan, maka harus dipikirkan besarnya biaya implementasi dan perolehan keuntungan atau kegunaan yang bisa dicapai," tuturnya.

Agar tujuan ini tercapai, evaluasi keberhasilan pun mutlak diperlukan. Di Hyatt, menurut Budi, ada beberapa ukuran yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan implementasi TI. Pertama dari segi waktu. "Sejauh mana TI berpengaruh terhadap kecepatan proses kerja dibanding sebelum TI dimanfaatkan," ujarnya. Kedua, dari segi kualitas, sistem TI yang digunakan harus sesuai dengan standar TI yang sudah ditentukan. Ketiga, dari segi kuantitas, ukurannya adalah seberapa banyak jenis pekerjaan yang dapat diproses setelah implementasi, termasuk di dalamnya berapa jumlah sumber daya yang digunakan dibanding sebelumnya.

Ke depan, ungkap Budi, Hyatt berencana menerapkan global reservation system yang sempat tertunda. Dengan aplikasi ini, pemesanan kamar bisa dicek secara real time dan online ke jaringan Hotel Hyatt di seluruh dunia. Setelah itu, juga akan dibuat nomor kontak pusat untuk layanan reservasi jaringan hotel Hyatt dan Aryaduta di Indonesia. Rencana lain, menurut Budi, adalah pengembangan virtual private network (VPN) dan akses telepon berbasis internet (IP phone), yang akan menghubungkan jaringan Hyatt di Indonesia dengan Hyatt Internasional di seluruh dunia.

Manajemen Hyatt boleh berbangga, implementasi TI mereka sepertinya sudah berada di jalur tepat. Betty Alisyahbana menyebutkan keunggulan perusahaan yang berjaringan internasional adalah karena mereka punya standar internasional yang sudah terbukti. Tetapi, di mata Ketua STIMIK Perbanas Richardus Eko Indrajit, tidak banyak yang istimewa dari sistem TI di hotel tersebut. Pemanfaatan aplikasi PMS untuk hotel system yang terintegrasi, menurut Eko, sudah hal yang lumrah dan menjadi keharusan di bisnis perhotelan. "Hotel system ini jelas harus ada, kalau nggak ada bukan hotel namanya," seloroh Eko.

Sebenarnya, kalau melihat rencana Hyatt ke depan, mereka tampaknya juga sudah berusaha mengadopsi teknologi terbaru, misalnya global reservation system yang real time dan online, VPN, hingga IP phone. Positifnya, kesemua teknologi baru yang direncanakan ini agaknya juga berkaitan erat dengan proses bisnisnya. Namun, kekurangannya, menurut Eko, Hyatt belum punya sistem aplikasi yang dapat menumbuhkan loyalitas pelanggan. Eko mencontohkan, salah satu cara membuat pelanggan loyal adalah memberikan program semacam reward point terutama untuk pelanggan yang telah beberapa kali menginap di jaringan hotel Hyatt. Selain itu, sebagai pelaku bisnis hospitality, menurut Eko, sebaiknya Hyatt juga bekerja sama dengan pihak lain yang juga berkecimpung di bisnis yang sama, misalnya dengan maskapai penerbangan. "Misalnya, pelanggan Hyatt yang beberapa kali naik Garuda atau telah mencapai jarak penerbangan tertentu, bisa mendapat reward serupa," kata Eko.

Dengan aplikasi semacam ini, menurut Eko, Hyatt bisa mencatat dan mengenali pelanggan dengan cermat dan akurat. Aplikasi yang tergolong dalam CRM (customer relationship management) ini tampaknya belum dimiliki Hyatt. Padahal, kata Eko, pemanfaatan aplikasi semacam ini akan berdampak sangat banyak. "Memberikan reward kepada pelanggan bisa menumbuhkan loyalitas karena mereka merasa diperhatikan," ungkapnya. Dengan menerapkan program semacam ini, menurut dia, hotel pun tak lagi hanya jadi tempat menginap, namun menawarkan berbagai nilai lebih kepada pelanggan untuk membuat mereka semakin loyal.

Pakar berusia muda ini juga menilai, pihak manajemen Hyatt di Indonesia tentu sudah melihat atau membaca sukses implementasi TI di hotel lain di mancanegara. Hanya saja, menurut dia, memang tidak mudah buat Hyatt Indonesia meniru model implementasi TI hotel lain di mancanegara dan mengembangkannya di sini. "Bisa-bisa (itu) malah jadi bumerang," tegasnya.

Kekhawatiran Eko tentu beralasan. Selain kendala ketersediaan dana investasi yang cukup besar untuk penyediaan infrastruktur, budaya pemanfaatan TI juga belum terlalu kondusif. "Bisa juga karena mereka belum menemukan solusi win-win dengan perusahaan yang akan jadi partner dalam bisnis," Eko menduga.

Di sisi lain, besaran angka investasi pun menurut Eko, seharusnya tak harus jadi masalah buat hotel sekelas Hyatt. Pasalnya, jika melihat segmen pelanggannya yang berasal dari golongan menengah ke atas, reputasi Hyatt tentu tak bisa diremehkan. Dengan demikian, kalaupun investasi ini dilakukan, diperkirakan akan bisa menghasilkan revenue baru. Menurut dia, penentuan anggaran TI yang mengacu pada persentase pendapatan yang bakal diperoleh tak ada salahnya. Yang jadi soal adalah besaran persentasenya. "Di negara berkembang investasi TI biasanya memang masih di bawah 5%, sedang di negara maju bisa sampai 20%-nya," Eko membandingkan.

Pengembangan sistem reservasi global yang dikerjakan Hyatt juga tak luput dari pengamatan Eko. Menurut dia, wajar Hyatt selama ini telah memiliki dan menggunakan jaringan khusus yang saling terhubung satu sama lain. Lebih-lebih dengan dukungan TI, sistem reservasi yang digunakan Hyatt harus semakin canggih, karena menggunakan beragam kanal, seperti telepon, internet, atau yang lain. "Namun, akan semakin bagus, jika pelanggan sendiri yang melakukan reservasi tanpa harus lewat front office Hyatt," katanya menyarankan.

Eko menyimpulkan, sebenarnya masih banyak fungsi TI yang belum diterapkan Hyatt di Indonesia. Ia menyarankan manajemen Hyatt di Indonesia mendefiniskan kembali calon pelanggan potensial mereka dan karakteristiknya. Untuk patokan awal, manajemen Hyatt dapat menggunakan kompetitor sebagai pembanding. Selain itu, Hyatt juga harus selalu me-review apakah sistem TI yang mereka gunakan telah membuat pelanggan loyal. Survai atau masukan harus juga diminta dari para pelanggannya. "Ini perlu untuk mendukung analisis terhadap kebijakan dan pola investasi TI agar tepat sasaran," kata Eko tegas.

Sumber: Swa
More aboutJaringan hotel hyatt : Harus lebih mengenali pelanggan

Mantra Baru investasi teknologi informasi

Diposting oleh Maz Duikin

Teknologi informasi bakal menggenjot produktivitas. Itulah mantra yang pada suatu masa diyakini oleh dunia bisnis. Maka, tak mau tertinggal oleh perusahaan lain di berbagai sektor industri, para petinggi Staples Inc. segera memerintahkan barisan staf teknologinya memborong berbagai komputer, peralatan jaringan, dan perangkat lunak guna meluncurkan e-business. Agar Staples.com jadi kampiun e-commerce, Max Ward bahkan tak segan merogoh US$125 juta. Sang vice president for technology ini tak kelewat hirau apakah sistem yang mereka install telah memberikan hasil optimal -- yang penting jangan sampai kalah langkah dari para pesaing.

Tetapi, dalam tempo tak sampai enam bulan setelahnya, Juni 2001, segalanya berubah. Di tengah ambruknya berbagai perusahaan dotcom, Ward meneriakkan perintah baru: dapatkan hasil optimal dari investasi yang ditanam.

Langkah yang kemudian diayun? Staples.com segera diserap kembali ke perusahaan induk. Kendati demikian, upaya teknologi mereka jalan terus. Hanya arahnya yang diubah. "Sebelumnya, 85% belanja teknologi kami ditujukan buat menggenjot produktivitas," ujar Ward. "Memasuki milenium baru, 40% diarahkan untuk menekan biaya."

Oleh Staples, teknologi yang telah terlanjur dibeli dialihkan penggunaannya buat mengembangkan sistem online help yang memungkinkan para manajer dan karyawan lain di jaringan toko memberikan jawaban yang memuaskan konsumen. Untuk investasi teknologi ini ia mematok target cukup tinggi: 17% return dalam empat tahun. Hasilnya? Di luar dugaan. Sistem online help tersebut mampu memberikan return sampai 60%. Tak heran kalau ia lalu berharap bisa menghemat US$10 juta melalui investasi US$2,5 juta dalam pengembangan sistem penyimpanan data yang lebih efektif.

Apa yang dilakukan Staples dan banyak perusahaan lain menandai populernya mantra baru: teknologi informasi mendongkrak efisiensi -- juga mempermudah upaya merangkul konsumen.

Dengan mantra baru ini, para petinggi perusahaan tak lagi keranjingan mencari teknologi yang dapat membantu mereka meluncurkan bisnis baru. Mereka lebih mencari sistem yang bisa memangkas biaya dan meningkatkan produktivitas karyawan. Buntutnya, kata Geoffrey A. Moore, managing director Chasm Group LLC, perusahaan konsultan yang bermarkas di Silicon Valley, "Bisnis yang membantu kalangan perusahaan untuk lebih efisien jadi meledak."

Bisnis yang menjadi pemangkas biaya ini bisa bukan cuma konsultan. Di kalangan manufaktur, misalnya, ada Celestica Inc. yang berspesialisasi di bidang jasa kontrak produksi. Berani memangkas margin operasi sampai nyaris menyentuh tulang -- cuma 3,7% -- anak perusahaan IBM yang bermarkas di Toronto, Kanada, ini berhasil menarik para kampiun sekaliber Motorola, Hewlett-Packard, Cisco Systems, Sun Microsystems, dan Lucent Technologies, selain sang Raksasa Biru IBM sendiri sebagai pelanggan setia. Tak heran kalau pada 2000 saja, berbagai produk teknologi informasi (TI) yang dihasilkan 36 pabrik Celestica mampu mendatangkan pendapatan US$9,8 miliar.

Celestica bisa sangat efisien karena struktur manajemennya yang sangat ramping -- cuma 3,5% dari karyawannya yang duduk di belakang meja. Kecuali itu, mereka juga memiliki sistem TI yang canggih, termasuk perangkat lunak supply-chain dan database yang mampu mengelola parts senilai US$8 miliar (pada 2000 saja) yang dibeli dari puluhan pemasok untuk pabriknya yang tersebar di 12 negara.

Di industri perangkat lunak, Siebel Systems Inc meroket dengan produk andalannya yang mempermudah kalangan bisnis melayani konsumen mereka. Sementara itu, di industri perangkat keras, Brocade Communication Systems melejit dengan storage switch yang memungkinkan kalangan perusahaan memanfaatkan dengan lebih baik storage area network alias sistem yang dapat menghubungkan peralatan penyimpanan data yang mereka miliki.

Memang, masih ada juga kampiun ritel ngotot terjun ke e-commerce. Tapi, mereka melakukannya dengan cara yang berhati-hati. Ambil contoh KB Holding. Mengambil alih sebagian besar aset eToys Inc. yang bangkrut, pemilik jaringan 1.300 toko KB Toys ini dapat menjadi e-tailer dengan hanya merogoh kocek US$15 juta -- amat-sangat murah, apalagi mereka juga mendapatkan intangible asset berupa brand yang oleh perusahaan dotcom itu dipupuk dengan biaya luar biasa mahal, selain pergudangan eToys yang modern di Blairs, Virginia.

Lebih dari itu, ujar CEO KB Holding Michael L. Glazer, "eToys punya sistem operasi kelas satu. Kami berharap banyak pelanggannya berdatangan lagi."

Buat menarik pelanggan lama, Glazer menampilkan fitur eToys yang telah populer plus mesin pencarinya yang canggih. Sebagai promosi, ia juga mengirimkan e-mail kepada tiga juta lebih mantan pelanggan. Dengan akuisisi ini, KB Holding mematok penjualan online US$80 juta pada akhir 2001 -- termasuk dari situsnya sendiri. Kalaupun targetnya tak tercapai, strategi yang dilakukan KB Holding pasti memberikan lompatan yang cukup besar. Bagaimana tidak, sebelumnya pembangunan situs KB Holding yang telah menelan biaya US$100 juta hanya mampu menggaet satu juta pelanggan.

Beberapa pemain tradisional lain yang gagal meluncurkan upaya e-commerce mengayun langkah yang lebih hati-hati lagi. Para peritel brick and mortal itu memilih menggandeng perusahaan e-tailer yang telah mapan sehingga dapat lebih berkonsentrasi di bidang yang paling mereka kuasai: merchandising, pemasaran, dan pengoperasian toko.

Sebagai contoh: para peritel tradisional produk olah raga seperti QVC, Modell`s Sporting Goods, dan Dick`s Sporting Goods yang mengalihdayakan urusan inventori dan layanan pelanggan mereka ke Global Sport Inc., eCSP (e-commerce service provider) khusus peralatan olah raga. Dalam aliansi ini, Global Sport memang mematok fee gila-gilaan, sampai 90% dari penjualan online. Tetapi, Dick`s yang menyerahkan seluruh urusan itu, termasuk yang menyangkut transaksi dan penyelesaiannya, misalnya, tetap mengantungi laba karena cukup menggaji satu karyawan saja untuk transaksi online, tak perlu 60 karyawan seperti sebelumnya.

Keuntungan lain Dick`s: "Kami tak perlu mengeluarkan investasi lagi untuk urusan Web, sehingga uang yang ada dapat digunakan untuk membuka toko baru." Kenyataannya, sampai Maret 2002, Dick`s memang mampu menambah 20 toko baru.

Aliansi brick and click pertama kali dilakukan oleh Toy `R` Us yang -- setelah gagal dengan Toyrus.com -- menggandeng Amazon.com. Kampiun ritel mainan itu memang harus membayar biaya cukup besar (US$300 juta) dalam bentuk uang muka plus bagian dari penjualan (5%). Tetapi, dengan fee tersebut, mereka tak usah pusing lagi dan bisa memfokuskan diri pada kompetensi intinya. Ini karena pekerjaan sulit yang sebelumnya menjegal kinerja Toyrus.com (dari penggudangan sampai pemenuhan order dan desain situs web) akan dilakukan oleh perusahaan milik Jeff Bezos yang memang piawai di bidangnya.

Aliansi yang sukses tersebut mengundang banyak perusahaan lain untuk bekerja sama dengan Amazon.com, termasuk jaringan toko buku di bawah bendera Borders Group Inc. yang Borders.com-nya sebenarnya menjadi pesaing bisnis Bezos yang memulai bisnis Amazon.com dengan menawarkan buku secara online. Dengan aliansi ini, Borders memberikan keuntungan finansial kepada pesaing, tetapi rapor situsnya yang diluncurkan ulang pada Agustus 2001 menjadi biru. Sebelumnya, setiap tahun Borders harus menombok US$29 juta untuk menambal kerugian Borders.com.

Peritel lain yang menggandeng Amazon.com untuk bisnis online-nya adalah Target Corp. dan Circuit Ciy Stores Comp. Dengan aliansi ini, mereka langsung memeroleh perhatian dari 38 juta peselancar dunia maya. "Kenyataannya, Amazon.com memang punya traffic yang tinggi," ujar Gerald Storch, vice chairman Target yang situsnya tak pernah masuk jajaran Top 50.

Apa rahasia sukses Bezos -- faktor yang membuat ia berkibar, sementara banyak wirausahawan dotcom lain yang tak kalah pintar, gesit, ulet, dan berani ambil risiko harus gulung tikar?

Pertama, Bezos tak perlu biaya promosi kelewat besar untuk menancapkan namanya di benak konsumen. Maklum, Amazon.com adalah e-tailer pertama, bahkan ketika mereka muncul belum banyak perusahaan dotcom di dunia maya. Kedua, yang tak kalah penting, sikap pendiri Amazon.com itu sangat membumi dan realistis.

Ketika Wall Street dan media massa memperlakukannya sebagai dewa industri teknologi informasi dan para analis seperti Henry Blodget (yang waktu itu bekerja pada CIBC Oppenheimer) meramalkan bahwa pada akhir 1998 nilai Amazon bakal menembus angka US$400/saham, misalnya, Bezos tak lupa diri. Lelaki kecil berambut tipis ini bahkan berkomentar, "Itu, kan, cuma kekayaan di atas kertas, sama sekali bukan indikasi bahwa aku telah berhasil mengibarkan perusahaan di puncak sukses jangka panjang." Padahal, baru setahun diluncurkan di Nasdaq, saat itu kapitalisasi pasar perusahaan yang mencatat penjualan tahunan US$610 juta tersebut telah meraksasa, mencapai US$24 miliar.

Lalu, ketika semua balik gagang menyerang Amazon yang terus menggelembung kerugiannya (pada 2000 saja sampai US$1,4 miliar lebih), Bezos juga menanggapinya dengan kepala dingin. Lelaki yang selalu ceria dan optimistis ini mengolok diri sendiri yang begitu cepat ganti status dari pahlawan jadi paria dunia Internet. Selebihnya, ia tetap mantap dengan strategi bisnisnya untuk cepat tumbuh bongsor.

Bezos amat sadar, lahan bisnis e-tailer hanya dapat menampung segelintir pemain besar. Sebab itu, ia ingin cepat menjenuhi pasar. "Kalau harus pilih antara mengoptimalkan penampakan bisnis menurut hitungan GAAP (generally accepted accounting principles) dan memaksimalkan the present value of future cash flows," Bezos selalu mengutip prinsip yang disampaikannya pada Laporan Tahunan Amazon yang pertama, 1997, ini dalam laporan tahunan selanjutnya, "saya akan pilih cash flows."

Tekadnya untuk membangun perusahaan beneran inilah -- bukan sekadar fundamental bisnis yang artifisial -- yang membuat Bezos tak segan menebar miliaran dolar buat membangun enam pusat distribusi di seluruh Amerika dan menyempurnakan situs Amazon.com. Belanja barang modal Amazon.com memang tinggi, pada 2000 saja masih 10% lebih dari pendapatan total. Tetapi, sekarang Bezos sudah mulai memetik hasilnya.

Pada 2002, belanja barang modal Amazon.com sudah bisa ditekan sampai tinggal 1% dari pendapatan total (sebagai pembanding, belanja barang modal Wal-Mart mencapai 4% dari pendapatan total). Dan, yang lebih menggembirakan, pada 2002 mereka telah mulai membukukan arus kas positif, bahkan laba. Dalam hal pendapatan, walau masih jauh untuk menyalip Wal-Mart sebagai peritel terakbar di planet bumi, pendapatan Amazon,com sudah jauh meninggalkan kampiun dunia maya lain, termasuk Yahoo dan eBay.

Pada 2001 pernah bertiup kabar bahwa Amazon.com akan melakukan kerja sama dengan Wal-Mart. Sayangnya, sampai saat ini aliansi kampiun ritel brick and click dengan brick and mortar yang dipercaya para analis bakal saling menguntungkan itu masih tinggal isyu.

Kenyataan bahwa Wal-Mart mampu memanfaatkan TI untuk bisnis ritel tradisionalnya namun tak kunjung berhasil membukukan sukses di dunia maya mungkin terdengar aneh. Kenyataan inilah, ditambah daftar kegagalan para kampiun ritel lain seperti Toy `R` Us menaklukkan dunia maya, yang mungkin membuat para analis yakin bahwa tak bakal ada lagi e-tailer pendatang baru yang bisa berkibar. Salah satu musababnya, itu tadi, seperti yang telah disadari Bezos sejak awal: Dunia maya hanya menyediakan tempat sangat terbatas buat para e-tailer.

Saat ini jelas terlihat bahwa yang paling menikmati buah revolusi TI bukanlah industri yang glamor seperti dotcom dan telekomunikasi, melainkan sektor bisnis yang biasa-biasa, terutama ritel tradisional yang didominasi oleh Wal-Mart. Atau, boleh jadi, Wal-Mart inilah yang membuat kalangan department stores Amerika mampu membukukan peningkatan produktivitas sampai 6% pada 1995-2000 -- jauh di atas sektor manufaktur (4,1%), perbankan komersial (2,6%), transportasi (2,4%), dan keseluruhan sektor di Negeri Paman Sam (2,3%).

Wal-Mart memang luar biasa. Hanya dalam tempo 40 tahun sejak didirikan, peritel yang bermarkas di Bentoville, Arkansas, telah memiliki 4.375 toko di sembilan negara dan terus tumbuh pesat. Pada Maret 2002, dengan penjualan US$220 miliar, mereka merebut posisi perusahaan terbesar di planet bumi dari tangan Exxon-Mobil dan General Motors. Tertarik oleh harga murah, setiap minggu 100 juta pelanggan membanjiri supercenter Wal-Mart yang ekstra-besar buat beli segala macam barang, dari pakaian hingga obat-obatan; melakukan aktivitas perbankan; mengecek mata; atau ganti oli mobil.

Harga murah yang ditawarkan Wal-Mart membuat rantai pertokoan yang didirikan Sam Walton ini diakui sebagai kekuatan yang menekan inflasi di Meksiko, membuat biaya hidup lebih terjangkau di Inggris, dan memicu revolusi sistem distribusi di Cina. Di Jepang, ketika raksasa ritel ini mengumumkan akuisisi 6% saham Seiyu, nilai saham samurai ritel ke-5 terbesar tersebut langsung meroket 60% di pasar modal Tokyo.

"Seakan Gunung Fuji meletus," ujar Takayuki Suzuki, analis pada Merrill Lynch. "Dan kalau gunung raksasa begini meletus, pasti diikuti gempa bumi besar. Dalam hal ini, para peritel Jepang di seluruh negeri langsung melakukan restrukturisasi dan sekarang secara aktif melakukan negosiasi buat menggandeng mitra internasional."

Di negerinya sendiri, penelitian oleh McKinsey & Co. menemukan, Wal-Mart adalah faktor terbesar di balik lompatan kuantum produktivitas Amerika Serikat pada 1990-an. "Lebih dari separuh peningkatan produktivitas di bisnis ritel barang umum dapat diketengahkan hanya dengan dua silabel: Wal-Mart," tulis analis McKinsey, Bradford Johnson, dalam laporannya.

Nah, apa yang membuat Wal-Mart demikian sakti?

Wal-Mart dikenal agresif memanfaatkan leverage-nya terhadap pemasok dan sangat anti-serikat pekerja dalam upayanya menekan biaya. Tetapi, yang membuat kampiun ritel ini demikian produktif adalah kemampuannya memanfaatkan teknologi. Bangunan terbesar di markas Wal-Mart di Bentoville adalah computer center dengan mainframe yang konon menyimpan data tiga kali lebih banyak ketimbang data Internal Revenue Service (IRS), kantor pajak Amerika Serikat yang terkenal memiliki data finansial lengkap seluruh penduduk Negeri Paman Sam itu.

Wal-Mart adalah peritel pertama yang memanfaatkan komunikasi satelit buat menghubungkan rantai pertokoannya dengan para pemasok, sehingga seluruh pemasoknya dapat memantau penjualan detik demi detik secara real time untuk mengirimkan barang baru begitu stok diambil dari rak toko. "Wal-Mart punya kapabilitas sistem yang luar biasa -- beberapa proprietary -- dan mereka tahu benar bagaimana menggunakan data yang dimiliki," ujar Dan Binder, senior vice president Morgan Stanley di New York. "Mereka melakukan banyak pernik kecil secara benar."

Perbaikan kecil yang banyak inilah yang membuat revolusi TI berjalan ke arah yang tak disangka. Dulu para pakar TI Silicon Valley yakin bahwa kemajuan pesat TI akan menyebabkan "destruksi kreatif" terhadap kapitalisme, yang menghancurkan hubungan tradisional antara bisnis, para pemasok, dan konsumen mereka. Sejak awal, Wal-Mart justru melakukan pendekatan sebaliknya: Kampiun ritel ini melakukan apa yang disebut Jeffrey Sonnefeld, pembantu dekan pada Yale School of Management, sebagai creeping but profound incrementalism.

Pendekatan Wal-Mart ini terlihat dari sang kampiun ritel mempererat ikatan dengan para pemasok terbesar, pelatihan silang agar SDM mereka bisa menangani berbagai bagian, dan peningkatan seni marketing untuk mendahulukan barang yang memberikan margin tinggi. Dengan strateginya ini, Wal-Mart berhasil mencetak penjualan per karyawan tertinggi di industri ritel. Daya saing yang tak tertandingi inilah melahirkan apa yang disebut sebagai Efek Wal-Mart yang mengguncangkan dunia itu.

Bahkan di Cina, menyediakan 85% barang yang dijajakan dari 14.000 pemasok domestik, Wal-Mart dapat menumbangkan barisan peritel lokal, Xiaomaibu, yang telah mengakar dalam masyarakat Negeri Tirai Bambu yang sangat tradisional itu. "Kami dapat membeli segalanya di sini -- bahan makanan, pakaian, makanan matang," tutur Ma Jing, wanita pengusaha berusia 30 tahun. "Pilihannya bagus-bagus, tempatnya bersih, dan anak-anak bisa berlarian untuk melihat mainan."

Lebih dari itu, Wal-Mart mengubah sistem belanja. Dengan pembeliannya yang luar biasa besar, kampiun ritel ini memaksa industri grosir Cina yang dikuasai BUMN yang biasa tak hirau dengan barang dagangannya untuk meningkatkan diri. Kalau para BUMN tersebut tak bisa memenuhi standar yang diprasyaratkan, Wal-Mart dengan gampang beralih ke pemasok lain. Sementara itu, peritel lokal seperti Shanghai Lianghua juga dipaksa untuk memberikan pelayanan yang lebih baik.

Kalau Wal-Mart.com tidak memberikan hasil yang diharapkan, bahkan di Amerika Serikat, itu karena e-tailer membutuhkan keandalan dasar yang berbeda. Buat para pendatang baru, biaya promosi yang diperlukan agar bisnis online mereka dikenal saja sudah menjadi kendala tersendiri. Dengan demikian, kalau inisiatif Web yang dilakukan tidak terkait langsung dengan tujuan inti bisnis, yang terjadi adalah pemborosan.

Para petinggi bisnis, ujar Tim Byrne, vice president Mercer Management Consulting, "Kini telah kembali mempertimbangkan dua hal: Apa alasan strategis insiatif Web yang diluncurkan, dan bagaimana return on investments-nya." Artinya, para eksekutif di bidang TI atau e-business sekarang tak bisa lagi mengabaikan perhitungan potensi manfaat dari kebijakan TI. Mereka harus memberikan hitungan ROI yang masuk akal untuk meyakinkan bos.

Simak saja pengalaman Jonathan Wharton ketika Sucor Energy Inc. ini membangun portal Web korporat untuk membantu 4.000 karyawan perusahaan energi dari Kanada tersebut agar dapat memeroleh informasi dan berkomunikasi lebih baik. Walau telah menerima estimasi ROI dari vendor TI-nya, Plumtree Software Inc., bahwa investasi US$1 juta bakal memberikan return US$13 juta, Wharton yang manajer e-business itu tetap melakukan perhitungan sendiri yang lebih prudent. Dengan memangkas potensi gains US$10 juta dan beberapa item keuntungan lain, ia menghadap atasannya dengan return yang lebih konservatif: US$2 juta.

Contoh lain adalah ketika Polly Foote hendak menggunakan perangkat lunak manajemen SDM dari PeopleSoft Inc. Sang vendor memperkirakan perusahaan distributor pipa tempat Foote bekerja, Ferguson Enterprise Inc., bakal menikmati ROI hingga 400% untuk investasi selama lima tahun. "Rasanya tak dapat dipercaya," ujarnya. Maka ia lalu menghabiskan waktu dua minggu untuk menghitung sendiri. Menemukan internal rate of return cukup tinggi, 77%, Foote dapat meyakinkan bosnya untuk menggunakan perangkat lunak yang ditawarkan.

Raksasa industri sekaliber Nestle pun -- yang pada 1999 saja memiliki 509 pabrik di 83 negara -- melakukan perhitungan yang masak sebelum mengucurkan US$1,8 miliar untuk mengibarkan diri dalam jajaran Web-smart elite dunia, pada 2000. Sebagai langkah awal, kampiun industri makanan yang telah malang-melintang selama 134 tahun ini masuk dunia maya, sehingga 230.000 karyawannya yang tersebar di seluruh dunia dapat memiliki akses informasi yang lebih baik. Dengan sistem ini, Nestle dapat mempercepat laporan keuangannya yang sangat kompleks sampai satu bulan dan, untuk pertama kali, mengetahui pasti berapa yang dibeli dari pemasok mana. Arus informasi yang lebih cepat juga membuat mereka mampu mendeteksi dengan cepat unit bisnis mana yang kinerjanya tertinggal sehingga bisa cepat melakukan respons.

Dalam tempo tak sampai setahun, investasi TI Nestle telah memangkas biaya sampai US$1,6 miliar dan, sampai 2003, diharapkan menghemat US$1,4 miliar lagi. Keberhasilan ini membuat laba bersih mereka meroket 35% menjadi US$1,7 miliar pada 2000 dan margin bersih melejit dari 6,2% menjadi 7,2%. Buntutnya, pada 2000 itu, saham Nestle melonjak 30%, menembus angka US$2.100.

"Brabeck telah membawa Nestle memasuki abad ke-21," ujar John Keele. Brabeck yang dimaksud analis BNP Paribas di London ini adalah Peter Brabeck-Letmathe, CEO Nestle.

Bagaimana dengan para raksasa bisnis lain yang telah menebar investasi TI yang besar tetapi salah arah? Mereka, semisal Citicorp, tak segan mengubah orientasi TI-nya ke arah yang lebih realistis.

Di balik mantra baru -- teknologi informasi mendongkrak efisiensi -- memang tersembunyi tuntutan bagi kalangan bisnis untuk bersikap realistis. Mereka harus mengarahkan investasi TI-nya ke bidang yang terkait langsung dengan bisnis inti. Lebih dari itu, mereka harus mau melakukan perhitungan ROI sendiri sehingga yakin bahwa hasilnya betul-betul masuk akal.

Periset: Atang Windarto

Sumber: Swa
More aboutMantra Baru investasi teknologi informasi

Menata Ulang investasi IT

Diposting oleh Maz Duikin

TI ibarat kuda, bila mampu mengendalikan, ia membuat perusahaan berlari. Sayang, masih banyak yang tak tahu bagaimana mengelolanya. Langkah apa yang mesti dilakukan, agar investasi tak idle dan bisa menjadi IT winner?

Teguh S. Pambudi

Pepatah mengatakan, Where there is ignorance, failure is not far behind. Menunggu Godot. Begitulah perumpamaan dunia korporasi yang terpaksa mangkel ketika menjumpai investasi TI -- yang sempat disebut-sebut sebagai the promosing land -- ternyata macet. Ujungnya, tak heranlah, kesudahan dari aktivitas menanti tak bertepi ini adalah rasa marah, gondok dan frustrasi. Tentu, di tengah sejuta perasaan yang berkecamuk, cara paling mudah menghadapi adalah menunjuk biang keladi di balik semua kegagalan: departemen TI yang tak becus, kemungkinan vendor kongkalikong, hingga para konsultan yang tak piawai memberi resep cespleng. Namun, di samping hanya menghabiskan energi, jelas tak menyelesaikan masalah. Terlebih, bila investasi telanjur dibenamkan. Lalu, apa yang mesti dilakukan?

Jangan ragu, demi uang yang sudah dan berencana dibenamkan, tata ulang investasi TI! Menurut Remenyi dkk. dalam bukunya Effective Measurement & Management IT Cost & Benefit, penyebab utama terjerembabnya korporasi dalam proyek TI yang macet, tak sesuai harapan, atau bahkan gagal, terletak pada dua hal. Yakni: memble-nya pengukuran dan pengelolaan manfaat TI. Orang-orang di perusahaan -- pimpinan puncak hingga ke bawahnya -- tak tahu bagaimana mengukur sekaligus mengelola implementasi TI di perusahaannya (artinya, bukan semata ulah vendor atau konsultan). Kalau begitu, bagaimana menata ulangnya?

Sebelum menjawabnya, mari kita lihat dulu alur yang tampaknya ideal bagi investasi TI yang sukses. Mengacu pada pemikiran Nolan Norton dalam Measuring & Managing IT Benefit, terdapat empat fase yang mesti dilalui perusahaan dalam pengelolaan manfaat TI. Fase pertama, tahap visi. Kedua, masa investasi. Ketiga, pengolahan (cultivation). Dan keempat, saat memanen semua yang telah dilalui, yang diperkirakan setelah melewati masa 2-3 tahun.

Secara sederhana, ujar Mas Wigrantoro, Presdir Direktur Omnilink Multimedia Nusantara, jika ditanya kapan perusahaan perlu memanfaatkan TI, jawabnya adalah ketika: (1) sebagian besar proses operasionalnya (produksi, pemasaran, keuangan, dan lainnya) sudah bersifat repetitif; (2) kinerja perusahaan tidak dapat ditingkatkan lagi output-nya dengan penambahan input manusia; (3) marginal cost cenderung meningkat sementara marginal revenue tetap (flat).

Itulah era otomasi. Era perusahaan mengincar efektivitas. Kini, di tengah persaingan yang semakin ketat, era transformasi bisnis menjadi dominan. Mengikuti alur Norton, ibarat ingin membangun rumah, fase pertama adalah masa menggambar denah dan bentuk yang diinginkan. Di sini, ujar Paulus Bambang W.S., Direktur Pengelola PT Astra Graphia Tbk., setidaknya tiga visi yang bebas dipilih perusahaan. Pertama, menerapkan TI untuk mempertahankan daya saing. Artinya, yang mendukung usaha stay on position. Untuk industri perbankan, misalnya, memiliki layanan ATM dan jaringan online untuk melayani kebutuhan nasabah, agar mereka tak berpaling ke bank lain.

Kedua, ingin menjawab kebutuhan bisnis agar lebih kompetitif dibanding pesaing langsung. "Selangkah lebih maju di depan kompetitor," katanya. Ia mencontohkan kliennya, perusahaan distribusi yang berupaya membangun sistem yang bisa berhubungan dengan prinsipal.

Ketiga, keinginan untuk changing the rule of the business game. Contoh yang diketengahkan Paulus adalah KlikBCA dan Tunai BCA, sementara Bank Danamon dengan fasilitas Fix`n Fast-nya. "Mereka sudah dalam fase mengubah total aturan main, dan mereka punya produk baru yang tidak dimiliki pesaing," ujarnya. Tahapan ini pula yang mulai dilakukan Astra dengan Astraworld. Dalam Astraworld, berupaya dibangun situs yang menciptakan proses cross selling dan customer centric. Pelanggan bisa membeli beragam merek dan jenis mobil yang ditawarkan, lengkap dengan fasilitas asuransi, garansi, hingga kredit.

Ketiga visi tersebut, dijelaskan Paulus, sepatutnya bertujuan pada satu hal: membantu performa bisnis secara positif. Namun, ia juga mewanti-wanti, seyogyanya tidak meloncat. Artinya, perusahaan yang ingin mengubah aturan main, terlebih dulu sudah memiliki fasilitas untuk selangkah di depan pesaing, atau setidaknya bertahan pada posisinya. Di sini, keinginan pertama mengacu pada yang disebut Remenyi sebagai investasi yang mau tak mau dilakukan (must do investment), karena fasilitas yang mendasar, sementara keinginan ketiga merupakan proyek prestisius yang sangat berisiko. Namun, inti dari ketiganya adalah: apa pun keinginannya, perusahaan mesti memahami bisnis inti dan dari mana bussiness value datang. Katakanlah di perbankan, bussiness value datang dari kepuasan nasabah.

Sampai di sini, ujar Peter Ong, bagi perusahaan yang masih bingung akan bergerak ke mana, saran sederhananya: Menggambar arsitektur bisnis dan menentukan tujuan yang ingin dicapai. Langkah berikutnya, menggambar arsitektur TI di perusahaan (jika sudah ada). "Jika keduanya disinkronkan, mestinya terlihat lubangnya di mana," ujar Presiden i2bc ini. Maksudnya, terlihat peranti TI apa yang sebenarnya sudah ada, tapi belum dioptimalkan, atau memang perlu investasi baru karena perangkat yang dibutuhkan belum tersedia.

Selain bisnis inti, tambah Wigrantoro, perusahaan juga kudu mempertimbangkan lingkungan usaha dan sasaran pengembangannya ke depan. Mengetahui hal-hal tersebut, sangatlah krusial. Alasannya, akan menentukan ruang lingkup, kompleksitas, jangkauan layanan (pelanggan dan mitra bisnis), jenis peralatan TI, dan besaran investasi yang hendak ditanamkan, yang notabene merupakan inti dari fase kedua dalam tahapan Norton.

Dalam masa investasi ini, memilih peranti TI merupakan isu genting, karena memengaruhi dana yang mesti dikucurkan. Terlepas dari visi yang ingin dibangun, Wigrantoro menyarankan, perusahaan sedikitnya memperhatikan dua faktor. Pertama, kapasitas pengolahan. "Bandingkan dengan laju pertumbuhan perusahaan yang diproyeksikan 2-3 tahun ke depan," katanya. Kapasitas pengolahan di sini termasuk aplikasi peranti lunak maupun keras.

Menurutnya, proyeksi kelayakan pemanfaatan peralatan TI tidak dapat lebih dari lima tahun, karena siklus hidup peralatan TI cenderung makin pendek, sementara pada perusahaan yang sudah menggunakan TI terjadi kecenderungan peningkatan produksi dokumen elektronik yang cukup besar.

Faktor kedua, frekuensi pemanfaatan. Sering kali, pemberian fasilitas TI buata karyawan -- khususnya bagian nonoperasional -- tidak mempertimbangkan frekuensi pemanfaatan. "Di perusahaa besar, sering kita lihat di setiap meja terdapat komputer dan printer. Padahal, belum tentu mayoritas karyawan menggunakan sebagian besar waktu kerjanya dengan komputer," paparnya mencontohkan kesia-siaan yang datang dari hal yang tampak sederhana. Dengan memperhatikan faktor ini, ia yakin, TI dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Peter setuju. Menurutnya, banyak kesalahan terjadi di fase investasi, karena tak mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan. Ia mencontohkan pengalaman perusahaan Indonesia yang membidangi manufaktur. Menurut Peter, seharusnya perusahaan seperti itu berinvestasi dalam manufacturing resource planning. "Kenyataannya, perusahaan tadi malah berinvestasi di call center dengan alasan meningkatkan kepuasan pelanggan. Akhirnya, investasi mubazir, karena tak banyak yang menggunakan," Peter memaparkan.

Pengetahuan. Benarlah jika filsuf Francis Bacon pernah mengatakan bahwa knowledge is power. Menariknya, di luar faktor di atas (kapasitas dan frekuensi), Richardus Eko Indrajit, mewanti-wanti satu hal yang tak bisa diabaikan: pengetahuan tentang pelanggan, khususnya how much they willing to pay. "Harus dipertimbangkan bisakah pelanggan nantinya menerima TI yang diterapkan atau tidak," kata President Institute of Information Management and Computer STIMIK Perbanas ini.

Ia punya ilustrasi sederhana tentang hal ini, yakni: bank yang ingin membuat ATM bersama yang bisa digunakan seluruh dunia. Sebaiknya, hitung dulu pelanggannya, lalu berapa biaya yang akan diterapkan pada mereka. Misalnya, 1 juta nasabah dipungut Rp 5 ribu sekali transaksi. Maka secara kasar, hasilnya Rp 5 miliar sebagai investasi. "Tentu saja sebelum menentukan semuanya, lebih baik dilakukan terlebih dulu survei. Dengan survei ini perusahaan juga bisa menentukan peranti mana dan seperti apa yang tepat dipakai," katanya. Juga, capital expenditure dan operating expenditure-nya.

Masalahnya, di kebanyakan perusahaan, ternyata ketidaktahuan ini kerap berlanjut pada ketidakmengertian lain: (1) Bagaimana mengukur manfaat yang akan dikejar dari investasi yang dibenamkan, alias sasaran keberhasilan; (2) Bagaimana operasionalisasi investasi ini, dipisah dari aktivitas perusahaan dalam SBU dengan account tersendiri atau tetap sebagai bagian/divisi perusahaan.

Idealnya, ujar Wigrantoro, ditetapkan secara kuantitatif sasaran yang akan dicapai. Remenyi memberi kerangka agar mudah mengukur manfaat investasi TI, apa pun visi yang diinginkan perusahaan. Menurutnya, kerangka meliputi lima manfaat: regulatory, finansial, kualitas layanan, persepsi pelanggan, dan manajemen internal. Contoh dalam regulatory adalah seberapa besar efektivitas aturan perusahaan seperti kecepatan penyelesaian pembayaran gaji dapat menghemat biaya. Atau, dalam hal finansial, seberapa besar mampu menurunkan biaya yang tak perlu.

Itu dalam hal sasaran. Pada dataran operasionalisasi, Wigrantoro menyarankan adanya pemisahan divisi TI dengan account tersendiri. Tujuannya, mencatat biaya berikut kontribusi revenue yang terjadi dari investasi TI. Dengan kata lain, pemisahan ini perlu untuk mengetahui sejauh mana efisiensi dan efektivitas investasi yang telah dikucurkan.

Siapa menabur angin, akan menuai badai. Begitu kata orang bijak. Ketidaktahuan dalam fase investasi, akhirnya kerap dibayar mahal, termasuk ketika masa pengolahan (kultivasi) mesti dijalani. Celakanya, di kebanyakan perusahaan, di fase inilah malapetaka itu datang. Bencana pertama, "Karena peranti TI-nya melebihi kebutuhan bisnis, investasi malah menjadi beban," ungkap Paulus. Bencana kedua, tentu saja terbangnya dana yang tak sedikit, terlebih bagi perusahaan yang semestinya tak memerlukan peranti TI yang canggih dan mahal, seperti ERP atau CRM, tapi menggunakannya karena ingin terlihat "seksi dan hi-tech".

Kedua bencana ini lebih parah terjadi pada mereka yang memaksakan diri berinvestasi kendati uang cekak. Di Amerika Serikat, dijelaskan Paulus, banyak perusahaan yang kolaps karena terlalu gandrung (filia), sehingga ngotot membeli dan memiliki semua peranti TI yang dianggapnya penting. "Mereka tak pertimbangkan capital expenditure dan operating expenditure-nya," katanya. Karena itu, selain outsourcing, Wigrantoro menyarankan untuk membuat daftar prioritas yang disesuaikan dengan strategi perusahaan dalam berinvestasi TI. Sayang, ini juga acap dilalaikan, sehingga ibarat sudah jatuh tertimpa tangga; kelebihan peranti TI plus kas yang bobol karena uang terbuang percuma.

Dengan kondisi yang memprihatinkan seperti ini, maka biasanya fase kultivasi pun jadi runyam. Idealnya, pada fase kultivasi, perusahaan tinggal mengelola implementasi TI yang telah diinvestasikan lewat perencanaan yang matang. Mereka tinggal mengontrol sejauh mana sasaran tercapai, dan apa error yang terjadi hingga manfaat kurang terealisasi. Namun, karena ketidaktahuan, maka implementasi pun "tak seindah warna aslinya" atau malah membingungkan.

Menariknya, selain ketidaktahuan dan ketidakmengertian yang sifatnya teknis seperti diungkap di atas, perusahaan acap kali melupakan satu hal ketika memasuki fase ini: "Change management (CM) alias mengelola perubahan," ujar Hamidjojo Surjotedjo dan Danny Supriyadi dari Accenture. Banyak perusahaan, ujar mereka, tak menyadari bahwa penerapan peranti TI terlebih yang berskala masif macam ERP sering menghasilkan perubahan yang tak kecil, yang membutuhkan kesiapan banyak hal dalam tubuh perusahaan -- struktur, tata laksana organisasi, skil dan kultur SDM-nya. Mereka bahkan menyodorkan fakta: Michael Hammer, salah satu pakar manajemen mengatakan penyebab nomor satu kegagalan implementasi TI adalah CM. Lalu, Harvard Business Review 1998, menyatakan bahwa 80% keberhasilan implementasi TI didukung CM, dan 20% oleh penerapan sistem TI itu sendiri.

Tentang fakta ini, tak usah jauh-jauh. Dana (bukan nama sebenarnya), seorang konsultan, punya pengalaman kurang menyenangkan yang menimpa kliennya -- perusahaan besar nasional -- dalam CM. Awalnya, perusahaan yang ditanganinya ingin menerapkan ERP di lingkungannya. Berpandangan implementasi TI sebatas persoalan teknis yang mudah dibongkar-pasang, mereka tak membentuk tim yang khusus (dedikatif) untuk menangani perubahan yang ada. Para pemuncak perusahaan ini lupa bahwa secanggih apa pun peranti TI, yang menjalankan toh manusia, bukan robot.

Petinggi perusahaan ini juga mengentengkan masalah. Mereka tak memandang bahwa selama perubahan dari sistem lama ke baru berlangsung, karyawan menghadapi masa transisi, yakni keharusan menjalani adaptasi, yang dapat berupa adaptasi teknikal (skill, kompetensi, proses kerja); kultural (perilaku, mindset, komitmen); dan politikal (munculnya isu efisiensi karyawan/PHK, sponsorship/dukungan top management). Buntutnya, implementasi yang menyedot miliaran rupiah pun tersendat-sendat, sebab karyawan tergagap menghadapi masa transisi. Ujungnya pun mudah ditebak, muncul saling tuding; manajemen puncak menyalahkan bawahan yang bertanggung jawab, konsultan, vendor, bahkan terkadang peranti TI itu sendiri.

Berangkat dari ketidaktahuan dan saling tuding seperti itu, maka tidak heranlah, masa panen yang semestinya bisa dinikmati pada fase keempat -- lazimnya setelah melewati 2-3 tahun -- hanya menjadi impian, bahkan mimpi buruk. Dan sebelum semuanya terlambat, dengan menilik alur yang diutarakan Norton, ada baiknya, perusahaan yang proyeknya macet melihat kembali lubang-lubang di mana ia terlihat lemah, yang boleh jadi terlihat sejak dari awal (fase visi). Bukan cerita, para pemuncak korporasi ingin implementasi ini-itu dalam perusahaannya, karena ingin dianggap canggih. Padahal, (maaf) boleh jadi istilah CRM saja masih samar-samar, apalagi fungsinya.

Menurut Peter, secara teknis, penyelesaian bagi yang sudah atau akan berinvestasi TI tampak sederhana: Lihat kembali dan koreksi visi yang ingin dibangun, pelajari implementasi apa yang belum maksimal, dan latih SDM agar mampu mengoptimalkan peranti yang sudah dibeli. "Itu satu jalan, agar mereka bisa mendapatkan manfaat dari investasi yang sudah mereka lakukan," ujarnya.

Namun, menilik problem empat fase yang dijalani di atas, tampaknya ada hal lain yang mesti segera dilakukan di samping meningkatkan pengetahuan teknis. Pertama, membangun kesadaran para CEO bahwa di tangannyalah investasi sangat bergantung, bukan di tangan konsultan atau vendor. Kedua, membangun organisasi TI yang kondusif. Ketiga, menerapkan CM, yang tak bisa ditawar lagi. Mengapa tiga hal ini yang disodorkan?

Mengacu pada pemikiran Michael Porter tentang adanya value chain (rantai nilai) dalam organisasi, TI -- yang sejatinya merupakan pengembangan teknologi -- hanyalah satu elemen yang berkaitan dengan aktivitas lain dalam perusahaan, seperti distribusi, pengadaan, dan lain-lain. Artinya, TI melekat dengan seluruh aktivitas perusahaan, tak bisa terpisah. Dan bicara ini, peran CEO sangat sentral. Ia menentukan besaran investasi yang dibutuhkan sesuai visi yang dikembangkan, ia juga yang mestinya bertanggung jawab pada hasil akhir yang dicapai. Konsultan?

"Kami diperlukan hanya untuk how to implementation setelah jelas strategi perusahaan mau ke mana," ungkap Paulus. "Sekarang bukan eranya CEO tidak mengerti TI, kalau tidak bakal ketinggalan," lanjutnya. Memang, para pemuncak korporasi tak perlu memahami detail perantinya. Yang perlu diketahui mereka, adalah bagaimana TI bisa mendukung bisnis. Sebab, sekarang TI bukan lagi sekadar mendukung operasional back office. "Empat-lima tahun lalu boleh saja mereka berpandangan demikian. Namun ke depan, sudah harus tahu bagaimana menang dengan strategi TI," eksekutif yang berkantor di lantai 22 Wisma Standard Chartered Bank, Jakarta itu menegaskan.

Menjadi IT winner. Memang itulah yang dikejar. Dan pendapat Paulus sejalan dengan pemikiran Jeanne W. Ross dan Peter Weill, dua pakar dari CISR MIT dalam tulisannya Six IT Decision Your People Shouldn`t Make (Harvard Business Review, November 2002). Menurut mereka, tak sepatutnya eksekutif puncak atau senior melepas tanggung jawabnya dalam implementasi TI. Pasalnya, banyak risiko yang bakal ditelan (lihat Bagan: Apa yang Terjadi Ketika Manajer Senior Mengabaikan Tanggung Jawab TI).

Dalam bagan itu terlihat, betapa fatalnya bila keputusan TI diserahkan begitu saja kepada bawahan, baik di level strategi maupun eksekusi. Misalnya, pada proses bisnis yang merupakan level strategi. Seharusnya pemimpin puncak membuat keputusan jelas tentang inisiatif TI yang perlu dan yang tidak dibutuhkan. Menyerahkan ini pada orang lain, menjadikan investasi mubazir.

Atau, pada ihwal risiko keamanan yang merupakan level eksekusi. Semestinya, pemimpin senior menentukan pilihan antara keamanan atau privasi di satu sisi, dan kenyamanan di sisi lain. Tak mau tahu urusan ini, membuat posisi terkadang tidak imbang, terlalu menekankan keamanan sehingga pelanggan kesal.

Dengan melihat pentingnya peran pimpinan senior, maka tak mengherankan, organisasi yang ada harus kondusif. Bukan organisasi yang semata-mata menyerahkan semua urusan pada departemen TI, sementara pimpinan puncak cuma tahu beres. Persoalannya kini, bagaimana bentuk organisasi TI yang ideal?

Ada istilah Remenyi yang disebut Paradigma Anthony dalam pengembangan TI -- meliputi tiga lapis: Di puncak adalah level strategi bisnis yang ditangani manajemen papan atas, kemudian level pengawasan yang dipegang manajemen madya, terakhir, level operasi yang dikelola penyelia. Beginilah organisasi yang dipandang kondusif buat investasi TI. Pasalnya, dikelola bersama, bersifat multifungsi dan multidisiplin. Lantas, bagaimana organisasi Anda?

Dalam pengamatan Eko Indrajit, apa pun bentuk organisasi dan sebutan buat orang-orang di dalamnya, seperti CIO (chief information officer), yang penting, organisasi itu menjalankan tiga fungsi: (1) Ada satu proses di mana dari hari ke hari organisasi bisa mengkaji kebutuhan perusahaan; (2) Orang-orangnya mampu melihat tren teknlogi untuk memenuhi kebutuhan bisnis inti; (3) Bisa memberikan solusi saat menghadapi masalah. "Faktor ketiga yang paling berat," Eko berujar.

Eko benar ketika bicara dalam konteks fungsi organisasi TI yang ideal. Namun, becermin dari pentingnya CM dalam proses kultivasi, maka bagi mereka -- terlebih yang sudah berinvestasi -- hal ini pun tak bisa diabaikan. Pertanyaannya, apa yang mesti dilakukan agar CM bisa mulus dijalankan?

Fulan (bukan nama sebenarnya), juga seorang konsultan yang menghadapi problem CM di perusahaan yang sedang dibantunya, mengungkapkan beberapa jurus. Menurutnya, dalam setiap program CM, upaya yang pertama kali harus dilakukan adalah menemukan dan mengenali perubahan apa yang terjadi akibat pemasangan peranti TI. Untuk itu, ia menyarankan perlunya diketahui existing system/process (kondisi sistem dan proses lama) dan to be system process (kondisi sistem dan proses baru) untuk melakukan gap analysis. "Dengan melakukan gap analysis, akan diketahui perubahan yang terjadi," katanya.

Selanjutnya, berdasarkan pemahaman mengenai perubahan ini, disusunlah program CM apa yang tepat untuk seluruh karyawan, agar mereka tak gagap menghadapi perubahan. Penyusunan program mencakup tiga aspek: teknis, budaya, dan politis. Sesuai dengan pengalamannya mengerjakan program CM, terdapat empat aspek yang harus dilakukan agar sukses. Pertama, membangun dukungan top level management terhadap proyek TI yang sedang dikerjakan (sponsorship). Kedua, memberi visi dan arahan tentang proyek yang dilakukan (direction). Ketiga, membangun komitmen seluruh anggota tim (commitment). Keempat, membangun kompetensi dan transfer teknologi (competence).

Menilik paparan di atas, tampak bahwa menata ulang TI bukan perkara enteng. Perlu keseriusan, komitmen, dan kerendahatian khususnya CEO untuk memperlajari kembali investasi TI. Bukan berarti, harus menjauhkan TI dari perusahaan, karena bagaimanapun TI sangat diperlukan. Persoalannya, bagaimana kemampuan kita mengelola. Dalam bahasa Peter Ong, TI ibarat kuda. Bila terkendali, kuda bisa membawa perusahaan lari lebih cepat. "Jadi, adalah hal yang bagus bila manajemen puncak mau investasi waktu dan uang untuk mengerti bidang TI," katanya.

Nasihat yang terasa mengena. Kecuali selamanya memang ingin menunggu Godot dan menjadi IT looser, investasi hanya untuk membuang uang. So, wake up, CEO`s!

Reportase: Abraham Susanto, Dede Suryadi, Dedi Humaedi, Herning Banirestu, Taufik Hidayat. Riset: Atang Windarto.

Sumber: Swa
More aboutMenata Ulang investasi IT

Menimbang Urgensi Implementasi ERP

Diposting oleh Maz Duikin

ERP atau simpelnya sistem terintegrasi membuat suatu perkara yang ada terlihat lebih jelas secara cepat sehingga permasalahan segera bisa ditangani , melihat kondisi ini satu saturnus software manufacturing yaitu suatu software yang menyatukan sistem akuntansi biaya rnus software mengeluarkan suatu produk, akuntansi keuangan , sistem persediaan bahan baku , sistem penggajian , dan sistem warehouse kedalam satu kesatuan yang terintegrasi . Kondisi di indonesia ,Liquiditas yang menipis, kucuran kredit seret dengan suku bunga yang tinggi, restitusi pajak yang cukup lambat, serbuan barang illegal maupaun kualitas dan kuantitas produk yang masih kalah dengan negara-negara tetangga merupakan situasi yang harus dihadapi oleh industri dalam negeri. Untuk tetap bisa bertahan, sebuah perusahaan harus dapat dengan sigap menyikapi kondisi ini dengan baik. Sistem manajemen perusahaan harus rapi dan baik sehingga mampu mengelola perusahaan dengan efektif dan efisien. Mutu produk harus terjaga dengan baik sehingga pelanggan dapat tetap loyal. Pengelolaan ini memerlukan suatu alat bantu yang bisa menghandle pekerjaan sehari hari menjadi lebih ringan . Saturnus software manufacturing bisa menjadi salah satu solusi yang efektif dalam hal ini .


Apa Itu ERP?
Enterprise resource planning software, atau ERP, tidak dapat kita maknai secara harfiah dari kepanjangannya. Lupakan kata planning dan lupakan kata resource karena terminology tersebut tidak terlalu menjelaskan. Akan tetapi ingat bagian Enterprise nya. Karena bagian tersebut merupakan ambisi sebenarnya dari istilah ERP, yaitu ambisi untuk menyatukan seluruh departemen dan fungsi yang ada pada sebuah perusahaan kedalam sebuah system computer terpadu yang dapat mengakomodasi seluruh kebutuhan spesifik dari departemen yang berbeda.

Sunggguh pekerjaan besar, membangun sebuah program komputer yang dapat melayani kebutuhan orang-orang di bagian keuangan sebaik playanannya kepada orang-orang HRD atau kepada orang-orang gudang. Setiap departement-departemen itu secara khusus memiliki sistem komputer nya sendiri yang sudah dirasakan optimum untuk keperluan kerja departemen masing-masing. Akan tetapi ERP mengkombinasikan semuanya menjadi satu kesatuan program komputer yang terpadu yang berjalan diatas database tunggal sehingga berbagai departemen itu dapat secara mudah saling berbagi informasi dan berkomunikasi satu dengan lainnya.

Pendekatan terpadu itu akan dirasakan manfaatnya jika perusahaan memasang software secara benar.
Menangani pesanan pelanggan misalnya, Secara khusus, ketika pelanggan membuat pesanan, surat pesanan tersebut memulai perjalanan dokumen berbasis kertasnya dari keranjang yang satu ke keranjang lainnya diseputar perusahaan, seringkali proses itu memerlukan penginputan dan penginputan ulang pada sistem komputer di departemen yang berbeda. Perjalanan panjang tersebut menyebabkan keterlambatan yang berujung pada kehilangan pesanan, dan seluruh seluruh proses input kepada sistem komputer yang berbeda selalu mengundang kesalahan. Sementara itu tidak ada seorangpun di dalam perusahaan mengetahui sebenarnya pada tahapan mana status order tersebut karena tidak ada otorisasi bagi orang yang ada di departemen keuangan untuk masuk ke sistem komputer yang dimiliki oleh bagian gudang untuk melihat apakah barang sudah dikirim. Sehingga kalimat “Anda harus menelfon orang gudang” adalah jawaban yang familiar yang sering di dengarkan oleh pelanggan yang frustasi.

ERP menggantikan sistem komputer independen di keuangan, HR, Manufaktur, dan gudang, dengan sebuah program tunggal yang terbagi menjadi beberapa module yang serupa dengan sistem sebelumnya yang terpisah. Area keuangan, manufaktur dan gudang seluruhnya masih mendapatkan softwarenya masing-masing, yang berbeda sekarang softwarenya terhubung bersama sedemikian hingga seseorang di bagian keuangan dapat melihat software yang ditangani oleh bagian gudang untuk melihat apakah barang pesanan pelanggan sudah dikirim atau belum?. Sebagian besar vendor ERP bersikap fleksibel sehingga anda dapat menginstal sebagian modul saja tanpa harus membeli paket utuh nya. Sejumlah perusahaan hanya akan menginstal ERP untuk kebutuhan modul keuangan atau HR dan tidak menggunakan modul sisanya hingga suatu saat dirasakan perlu.

Bagaimana ERP dapat meningkatkan kinerja bisnis perusahaan?

Harapan terbesar dari penggunaan ERP adalah untuk menunjukan perbaikan cara perusahaan anda mengambil dan mengelola pesanan pelanggan. Itulah sebabnya mengapa ERP seringkali dijadikan acuan sebagai software back-office. ERP tidak menangani proses penjualan di depan (meski sebagian besar vendor ERP juga telah membangun software CRM untuk melakukan hal tersebut); akan tetapi, ERP mengambil pesanan pelanggan dan menyediakan sebuah peta jalan untuk melakukan automasi pada setiap langkah. Ketika customer service anda menginput dokumen pesanan pelanggan pada sistem ERP, maka yang bersangkutan sudah memiliki seuruh informasi yang dibutuhkan untuk melengkapi dokumen order tersebut (Angka piutang pelanggan dan history pesanan dari modul keuangan, level inventory yang dimiliki peanggan dari modul gudang dan jadwal pengiriman melalui truk yang ada pada modul logistik)

Orang-orang yang berada pada departemen yang berbeda ini semuanya melihat informasi yang sama dan dapat mengupdatenya. Ketika sebuah departemen selesai dengan sebuah pesanan maka secara automatis akan diagendakan untuk dieksekusi oleh departemen berikutnya via sistem ERP. Untuk mencaritahu dimana pesanan pada saat tertentu, anda hanya perlu untuk masuk kedalam sistem ERP dan lacak semuanya. Dengan sedikit keberuntungan. Proses pergerakan surat pesanan akan terlihat dengan jelas posisinya didalam organisasi, yang pada gilirannya pelanggan akan mendapatkan pesanannya dilayani dengan lebih cepat dan dengan lebih sedikit kesalahan daripada sebelumnya. ERP dapat menerapkan keajaibannya kepada proses bisnis utama lainnya, seperti penggajian karyawan atau pembuatan laporan keuangan.

Hal itu setidaknya yang menjadi mimpi dari ERP. Pada kenyataannya dilapangan yang terjadi tidak semulus yang dibayangkan.

<

Mari kembali ke permasalahan awal, proses tersebut mungkin tidak terlalu efisien akan tetapi dapat dibilang sederhana. Keuangan melakukan pekerjaannya, gudang melakukan pekerjaannya, dan jika ada hal yang salah terjadi di luar tembok-tembok departemen maka ini adalah kesalahan pihak lain. Sekarang tidak lagi. Dengan ERP, pekerjaan customer service tidak lagi sekedar mengetikkan nama seseorang ke dalam komputer dan menekan enter. Akan tetapi layar-layar ERP membuat para penggunanya memiliki sentuhan bisnis yang lebih baik. ERP menjangkau dari mulai posisi kredit pelanggan yang dikelola departemen dan posisi stok barang dagangan. Apakah pelanggan akan membayar tepat waktu? Akankah kita mampu untuk mengirimkan order tepat waktu? Hal-hal semacam ini yang tidak pernah di dijawab oleh customer service sebelumnya, dan jawaban ini pula lah yang mempengaruhi pelanggan dan setiap departemen di dalam perusahaan. Akan tetapi bukan hanya bagian customer service yang harus memahami ERP, bagian gudang yang menjadi penjaga inventory juga harus ikut dalam penggunaan sistem secara online. Jika tidak, bagian customer service hanya akan melihat level stok yang rendah di layar mereka dan memberitahukan customer bahwa barang yang mereka minta kosong persediaannya. Akuntabilitas, Tanggungjawab dan komunikasi tidak pernah difasilitasi sebaik setelah pemasangan ERP sebelumnya.

Orang-orang tidak terlalu menyukai perubahan, dan ERP meminta semua orang yang terlibat dengannya untuk mengubah cara mereka bekerja. Itulah sebabnya nilai-nilai manfaat dari ERP sulit sekali untuk diturunkan. Software menjadi tidak terlalu penting daripada management perubahan yang harus dimiliki oleh perusahaan. Jika anda menggunakan ERP untuk meningkatkan cara orang-orang di perusahaan anda mengelola pesanan pelanggan, barang-barang pabrik, pengiriman dan penagihan, anda akan melihat nilai tambah yang dari software. Sebaliknya jika anda ambil cara gampangnya, menginstall software saja tanpa mengubah cara kerja, anda akan sulit untuk melihat nilai apapun didalamnya. Bahkan software baru hanya akan memperlambat cara anda bekerja jika posisinya hanya menggantikan software lama yang setiap orang sebelumnya sudah sangat mengenali software lama tersebut.

Menimbang Urgensi Implementasi ERP
Tiga hal mendasar yang harus dijaga karena mempengaruhi tingkat kesuksesan perusahaan dipasaran adalah: harga, ketersediaan, dan mutu. Kepuasan para pelanggan ditentukan oleh layanan produk dengan harga yang terjangkau, tersedia di pasaran, dan memiliki mutu sesuai dengan yang dijanjikan oleh perusahaan.

Tolok ukur tingkat kepuasan bisa dilihat dari naik-turunya penjualan, tingkat market share, maupun kontinuitas order dari pelanggan. Ketiga hal ini hanya mampu dicapai oleh perusahaan yang memiliki manajemen bisnis yang baik. Manajemen bisnis yang baik akan dapat melakukan kontrol, menciptakan stabilitas, prediktabilitas dan kapabilitas bisnis.

Penetapan atas kebijakan harga membutuhkan banyak informasi yang akurat atas kemampuan daya beli masyarakat dan biaya pokok untuk menyediakan produk tersebut ke konsumen. Penetapan biaya pokok dari sebuah produk memerlukan pencatatan atas semua transaksi biaya-biaya yang terkait dengan produk tersebut.

Dari rekaman transaksi tersebut suatu perusahaan akan dapat menentukan nilai yang tepat atas biaya pokok suatu produk dan membandingkan dengan daya beli pasar. Dengan demikian perusahaan dapat menentukan harga yang tepat untuk diberikan kepada konsumen. Kemampuan menjaga ketersediaan produk di pasar membutuhkan manajemen rantai suplai yang baik.

Perencanaan kebutuhan barang melalui prakiraan, penetapan safety stock, update realisasi pesanan, dan stok gudang yang akurat menjadi syarat mutlak dalam perencanaan logistik. Mutu yang baik dihasilkan oleh manajemen mutu yang baik dimulai dari proses penerimaan barang yang ketat, proses produksi yang konsisten, dan penjaminan pasca penjualan. Standar mutu dari masing-masing proses harus ditetapkan untuk mengontrol proses bisnis berjalan sebagaimana yang diharapkan.


Manajemen informasi di dalam perusahaan menjadi hal yang vital untuk mendukung kesuksesan manajemen proses bisnis. Setiap transaksi pada perusahaan yang berpengaruh terhadap biaya, kondisi stok, kebijakan harga, maupun aktivitas para pegawai seharusnya terekam dengan baik. Kesinkronan data antar bagian menjadi suatu yang vital. Sebagian besar industri di Indonesia bermasalah mengenai data perusahaan mereka.

Adanya database yang terpisah-pisah menjadi sebuah kendala karena seringkali selisih sehingga membutuhkan waktu untuk memverifikasi. Selain itu kendala tidak terintegrasinya sistem antar bagian menyebabkan data yang dimiliki tidak real time dan terjadi duplikasi kegiatan entry data sehingga pengambilan keputusan menjadi lambat dalam persaingan industri yang semakin ketat. Konsep ERP (enterprise resource planning) mengintegrasikan manajemen informasi antar bagian dalam perusahaan sehingga data yang dibutuhkan oleh perusahaan berasal dari satu database sehingga memudahkan pengeloaan sumberdaya yang dimiliki.

Dengan integrasi antar bagian ini, duplikasi data dapat dihindarkan sekaligus mengurangi proses-proses entry ganda yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh pegawai. Data-data produk mengenai stok, biaya-biaya yang diperlukan bisa terekam dengan akurat sehingga dapat digunakan untuk merencanakan penyediaan barang di pasar.

Akuratnya nilai persediaan juga membantu bagian logistik untuk menetapkan kebutuhan barang secara lebih tepat sebagaimana dalam konsep Just in Time. Dalam konsep Just in Time, persediaan merupakan salah satu waste yang harus dikurangi tanpa mengganggu ketersediaan yang diperlukan oleh bagian produksi maupun ketersediaan di pasar. Nilai persediaan dalam perusahaan yang berbasiskan produk memiliki nilai yang cukup besar.

Dengan penerapan persediaan yang efisien akan dapat meningkatkan liquiditas perusahaan dan memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan sebagian dananya untuk kebutuhan investasi yang lain.

Secara umum penerapan sistem ERP yang ideal akan memberikan dukungan terhadap manajemen sumber daya dengan mengelola informasi perawatan dan perhitungan kapasitas penggunaan sumber daya, dukungan atas kontrol keuangan perusahaan, dukungan atas kontrol kualitas, serta automasi dari aliran bisnis proses dan keselarasan antarbagian.

Agar sebuah perusahaan dapat menerapkan konsep ERP dengan baik, setiap aspek dari organisasi, manusia, informasi, dan teknologi harus dikaji. Dengan demikian penerapan tata kelola perusahaan yang baik dapat diimplementasikan pada industri sehingga dapat meningkatkan daya saing di pasar.

sumber : http://www.ubb.ac.id
More aboutMenimbang Urgensi Implementasi ERP